Haykal Satria Panjeraino. Diberdayakan oleh Blogger.

Hai Haykal !

    • Beranda
    • Tentang Aq
    • Kuliah
    • Bisnis
    • Keseharian
    • Romansa
    • Serius
    30 April 2014, jam 15.32 WIB.

    Komputer nomor 20, dan 19. Lab. TIK SMA Taruna Bakti Bandung.

    Setelah itu, semuanya terasa berbeda. Gue dan teman gue. Terlebih setelah gue menemukan kutipan ini yang kebetulan gue lihat di Twitter @MTLovenHoney (Akun Twitter Om Mario Teguh) saat gue sedang menulis ini. Sangat tepat :

    Kebodohan karena gengsi: Saling mencintai, tapi berpisah karena tidak mau menjadi yang pertama mengatakan cinta. MT

    Yah, namanya juga hidup.
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Sebenarnya kejadian ini terjadi beberapa bulan yang lalu, kira-kira Kamis 14 November 2014. Saat itu gue baru aja pulang dari eskul basket di sekolah gue yang dilaksanakan di GOR Yayasan Taruna Bakti JL. Suci. Seperti biasa, abis Shalat Maghrib gue langsung pulang sekitar jam 6.30an. Dan saat itu gue mampir dulu ke Alfamart yang ada di pengkolan Jl. Pusdai ama Jl. Supratman. Biasa lah, mampir bentar buat ngerampok beli minuman, soalnya kantin di GOR tadi dah tutup.

    Disana, gue cuman beli minuman oplosan Powe*rade doang. Dan tanpa basa-basi, abis itu gue langsung ke kasir buat bayar. Di depan gue ada seorang Mas-Mas yang mau ngisi ulang air galon sama beli rokok, sementara di belakang gue ada Mas-Mas (lagi) yang beli minuman apalah. Sebenernya saat itu posisi berdiri gue rada ke pinggir, gak sejajar sama Mas-Mas di depan gue. Nah, pas Mas-Mas di depan gue udah selesai sama urusannya,

    Disinilah muncul masalahnya.

    Saat gue udah nyimpen minuman gue di meja kasir mau bayar, tiba-tiba Mas-Mas di belakang gue nyerobot gitu aja dan nyimpen belanjaannya di meja kasir secara tidak etis. Dan seketika itu juga Mas-Mas kasir pun bingung harus mendahulukan yang mana. Akhirnya, Mas-Mas yang tadi di belakang gue dipilih buat bayar duluan. Gue saat itu cuman bisa pasrah dan menghela nafas panjang, dan diem aja. Mungkin kalian juga bertanya "Kenapa elo diem aja? Harusnya ngomong dong, itu kan salah!!".

    Gue milih diem karena gue gak mau nyari ribut disana, toh ini cuman masalah kecil. Lagipula, pas disana gue lagi cape abis basket, jadi males rasanya marah-marah. Yah, walaupun Mas-Mas tadi badannya lebih kecil dari gue dan mungkin gue bisa ngebuat dia jadi kaleng mayones dengan mudah, tapi ya itu, gue gak mau nyari ribut cuman gara-gara masalah kecil. Gue juga pernah baca Hadist Nabi SAW yang bilang "Jika engkau marah, diamlah". Hal ini udah sering gue lakukan, di sekolah atau di rumah. Kalo gue diem dengan muka jutek, tandanya gue lagi marah, atau gue lagi galau gara-gara elang kesayangan gue lagi masuk angin gara-gara terbang pas ada angin ribut. Abis bayar, Mas-Mas tadi pergi dengan muka polos, merasa gak bersalah. Abis itu gue bayar minuman gue dengan damai, dan pulang ke rumah dengan damai pula.

    Saat nginget kejadian ini, gue inget dengan iklan Vido*ran Sma*rt, pasti kalian juga tau lah. Jadi di iklan itu ada anak kecil ama Bapaknya lagi antri beli tiket kereta. Nah, tiba-tiba Bapaknya bilang mau ke toilet dan minta tolong jagain antrian ke anaknya, saat itu di depan mereka tinggal 1 orang lagi. Pas Bapaknya ke toilet, tiba-tiba ada Om-Om yang nyerobot antrean dengan polos. Anak kecil tadi yang ceritanya udah dikasih Vido*ran Sma*rt noel (nyolek) Om-Om tadi terus bilang "Om ganteng, deh. Minta uang dong, Om." "Excuse me", Om-Om tadi bales "Apaan sih", terus dibales lagi "Oh, maaf, saya kira Om gak bisa Bahasa Indonesia, itu *sambil nunjuk papan yang bertuliskan "Harap Antri"", langsung deh Om itu tengsin dan gak tau kelanjutannya gimana. Liat aja langsung disini : Iklan Vido*ran Sma*rt

    Abis kejadian ini juga, gue jadi inget sebuah thread di Kaskus yang berjudul "Belajar Mengantri Itu Lebih Penting Dari Pada Belajar Matematika". Disana diceritakan kalo guru di Australia lebih pengen siswanya pinter antri daripada pinter matematika, karena pinter antri ada banyak kegunaan dalam hidup. Lebih lengkapnya gue akan tampilkan isi thread tersebut, ini dia :


    Seorang guru di Australia pernah berkata:

    "Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri."

    “Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara Indonesia justru sebaliknya.

    Inilah jawabannya:

    Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

    Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

    Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

    ”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”


    ”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

    Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

    Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

    Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

    Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

    Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

    Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

    Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

    Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

    Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

    Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

    Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.


    Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.
    dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

    Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

    Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

    Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

    Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

    Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

    Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

    dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

    Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

    Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

    Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

    Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

    Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...


    Terbukti kan, bahwa antri itu punya banyak hal berguna dalam hidup. Sayang di Indonesia budaya antri belum biasa dikenalkan sejak kecil. Yah, lewat ini gue cuman berharap orang Indonesia bisa peduli ke hal-hal yang kecil, termasuk antri, dan mungkin yang lainnya. Karena sesuatu yang besar gak akan terjadi tanpa hal-hal yang kecil. Bangsa Indonesia bakalan susah maju kalo orangnya belom pada cerdas.

    Mungkin segini dulu yang bisa gue tulis, mohon maap kalo tulisan gue menyinggung. Terima kasih udah sempet baca. Wassalam!!
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Senin, 6 Mei 2013
    Hari ini adalah hari pengumuman Tes Saringan Masuk (TSM) SMA Taruna Bakti. Yap, seminggu setelah test dilaksanakan, akhirnya kita semua bisa melihat siapa saja yang lolos test ini. Hari itu gue bangun rada siang, karena malam kemarin (sekitar jam 10 malam) gue baru aja sampai rumah setelah menjalani perjalanan 8 jam yang melelahkan setelah 2 hari menggila (baca: karyawisata atau piknik) dengan teman sekolah gue di Pangandaran. Dan begitu bangun, gue pun Shalat Duha dulu baru Ibu gue menyuruh gue untuk cari kerja menyalakan laptop.

    Awalnya gue kira Ibu gue meminta gue untuk menyalakan laptop karena Ibu gue ingin menamatkan game Minesweeper yang secara logika mustahil untuk ditaklukan, atau malah Ibu gue ingin coba-coba main Surgeon Simulator, mengerikan memang. Tapi setelah gue selesai Shalat gue tidak mendengar suara gerak-gerik ambulans di game Surgeon Simulator. Ya, perkiraan gue salah besar. Dan gue juga baru sadar bahwa Ibu gue bukan Gamer, bahkan gue pun bukan gamer. Yah, begitulah.

    Dan setelah gue lihat, ternyata Ibu gue sedang membuka situs Taruna Bakti, dan tepatnya sedang melihat Pengumuman Tes Saringan Masuk SMA Taruna Bakti (jika ingin lihat klik disini).
    Beginilah Penampilannya Sekarang.
    Gue pun saat itu bertanya ke Ibu gue "Mah, aku keterima gak?" Ibu gue pun jawab "Enggak Kal, kamu gak ada di tabel. Kamu gak keterima, gak apa-apalah Kal. Yang penting sudah berusaha" Gue pun sebagai warga negara yang baik menjawab "Iya, Mah. Saya ikhlas jika itu dilakukan demi kepentingan negara. Saya ikhlas, Mah. Allahu Akbar!!" Eh, malah ngawur ya? Begitulah deh, pada intinya gue gak keterima. Gue pun merasa wajar gak keterima disini, karena saat test gue melakukan hal yang cukup gila dan bodoh (perlu keterangan? Baca dulu kisah Testing Hari Pertama dan Testing Hari Kedua), harapan gue mulai hilang, dan gue masih tetap jomblo. Oke, karena gue gak keterima, mungkin sekian dulu ki.... Eh sebentar dulu, ada kejutan ternyata!! Mari kita lanjut ceritanya.

    Setelah melihat daftar nama yang keterima, Ibu gue pun scroll lagi ke bawah, dan menemukan daftar tunggu. Ada 2 tabel disana, ada tabel untuk siswa SMP Taruna Bakti, dan yang 1 lagi tabel untuk siswa SMP non-Taruna Bakti. Dan secara mengejutkan, ada nama gue disana (tentu yang di SMP non-Taruna Bakti). Entah apa yang gue rasakan saat melihat itu, senang, panik, bersyukur dan ganteng. Walaupun saat itu gue berada di urutan 5 terbawah, gue tetep besyukur dan heran karena masih diberi kesempatan bersekolah disini setelah saat test sempat panik sampai 3 kali. Tapi, karena masih sedikit bingung, maka Ibu gue pun secara sigap langsung menghubungi 14045 SMA Taruna Bakti. Setelah sepertinya mendapatkan penjelasan yang cukup mendalam, akhirnya Ibu gue tau apa itu daftar tunggu. Daftar tunggu ini berbeda dengan yang ada di tempat praktek dokter, tidak ada kursi dan tidak ada jarum suntik yang menyeramkan, yang hanya ada tabel dengan nama siswa SMP dan juga nomor pesertanya. Siswa yang berada dalam daftar tunggu akan dipanggil kembali secara otomatis sesuai urutan dia di daftar tunggu itu, tergantung dari berapa banyak siswa yang tidak daftar ulang alias mengundurkan diri. Masih bingung? Oke. Jadi gini, siswa yang langsung keterima diwajibkan daftar ulang hari itu juga atau besoknya. Dan bila dia tidak daftar ulang, dia dianggap gugur dan tidak bisa bersekolah di SMA Taruna Bakti. Sedangkan tempatnya yang kosong itu akan diisi oleh siswa yang ada di daftar tunggu. Sudah mengerti? Bagus.
    Nama gue yang di nomor 28.
    Pengumuman siswa yang keterima lewat jalur Daftar Tunggu akan diumumkan hari Senin, 13 Mei 2013. Itu berarti Senin depan. Tuhan masih memberikan gue (dan siswa lainnya) untuk berdoa lebih giat lagi, setidaknya sampai Seminggu ke depan, dan tetap berharap bisa keterima di sekolah ini. Dan setelah gue perhitungkan, gue bisa keterima di SMA Taruna Bakti jika ada sekitar 50 siswa yang tidak daftar ulang alias mengundurkan diri. Membayangkannya saja sudah menyeramkan, tapi semua bisa saja terjadi. Oke, mari lanjutkan ceritanya.

    Senin, 13 Mei 2013
    Hari ini adalah hari besar bagi sebagian orang, termasuk gue. Mungkin hari ini ada orang yang punya pacar baru (sementar gue disini masih menjomblo *nyari shower*), mungkin ada yang baru dapat uang 5 juta yang entah datang dari mana, atau mungkin senang karena dia masih selamat setelah terjun dari lantai 8 sebuah gedung. Sementara gue menganggap hari ini adalah hari besar karena, hari ini adalah Pengumuman Siswa Daftar Tunggu yang Diterima di SMA Taruna Bakti. Ya, setelah diberi kesempatan 1 Minggu untuk berdoa lebih giat lagi, hari ini gue akan melihat hasilnya. Oke, mari kita saling rangkul seperti yang biasa dilakukan pemain sepak bola saat adu penalti, agar suasana saat kalian membaca ini pun lebih syahdu dan dramatis. Mari kita mulai.

    Begitu bangun, Ibu gue menyuruh gue untuk langsung cek website Taruna Bakti, untuk liat pengumuman test, tentu. Tapi karena gue malas nyalain laptop #MaklumJomblo, maka dari itu gue langsung menyalakan modem WiFi di rumah gue dan seketika langsung mengaktifkan WiFi di HP gue. Hal yang gue lakukan tentunya jauh lebih simpel dan akan terasa menyenangkan jika dilakukan di pagi hari. Setelah HP gue tersambung dengan WiFi, gue pun langsung menuju situs Taruna Bakti dan fokus ke SMA Taruna Bakti, lalu melihat bahwa pengumuman itu sudah dipublikasikan sejak 3 hari yang lalu, aneh. Jika ingin melihat pengumumannya, kalian bisa klik disini
    Beginilah, pengumumannya ada di paling bawah.
    Seketika gue klik artikel itu, lalu fokus melihati nama yang ada di tabel itu satu persatu. Tabel pertama berisi siswa yang diterima dari SMP Taruna Bakti. Dari 30 orang, hanya 29 orang yang keterima dari SMP Taruna Bakti. Setelah itu, gue langsung melihat siswa Daftar Tunggu yang bukan berasal dari SMP Taruna Bakti. Disinilah gue mulai deg-degan, fokus, galau, kutilan, panuan dan seakan melupakan kejombloan gue yang sudah lama melekat. Saat gue sedang fokus mengamati nama yang ada di tabel itu satu-persatu. Tiba-tiba gue dikejutkan karena seketika saja wajah Om Sutan Bhatoegana muncul di layar HP gue, mengerikan, tapi ganteng. Eh, tentu bukan. Gue sangat terkejut saat itu karena....

    Nama gue ada di tabel itu!! Ya, itu artinya gue keterima di SMA Taruna Bakti. Alhamdulillah, gue sangat bersyukur atas ini. Oiya, dari 32 orang yang ada di Daftar Tunggu siswa yang bukan dari SMP Taruna Bakti, ada 29 orang yang keterima. Itu berarti hanya ada 8 orang yang tidak diterima, 5 dari SMP Taruna Bakti dan 3 lainnya yang bukan dari SMP Taruna Bakti. Itu artinya ada 54 orang yang tidak daftar ulang alias gugur atau mengundurkan diri, banyak sekali. Dan walaupun gue berada di urutan 2 terbawah, gue masih bersyukur, setidaknya doa gue selama seminggu kebelakang telah dijawab dengan indah.
    Daftar Siswa keterima yang bukan dari SMP Taruna Bakti.
    Mungkin pengumuman yang diatas sedikit tidak jelas. Oke, ini daftar yang lebih jelasnya lagi.
    Lebih jelasnya lagi. Gue masih tetap di nomor 28.

    Setelah itu gue menunjukkan hal ini ke Ibu gue, seketika Ibu gue pun berkata Alhamdullilah, sangat bersyukur. Lalu Ibu gue pun menyalakan laptop untuk melihat pengumuman ini (karena layar HP gue kecil). Setelah melihat dan memastikan kembali bahwa nama gue masih ada (yaiyalah masa ilang begitu saja). Dan setelah dilhat lagi, peserta yang diterima wajib melakukan daftar ulang hari itu juga (Senin, 13 Mei 2013) atau besoknya (Selasa, 14 Mei 2013) dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, siswa juga wajib hadir saat daftar ulang. Tapi karena hari itu tidak akan sempat, maka gue akan daftar ulang besok.

    Selasa, 14 Mei 2013
    Gue berangkat dengan Ibu gue sekitar jam 7.45 pagi, sedangkan daftar ulang itu sendiri dimulai dari Senin kemarin sama Selasa dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Dan melihat gue yang berangkat jam segini, bisa dipastikan bahwa gue akan menjadi siswa pertama yang daftar ulang pada hari itu, menyenangkan sekali. Tidak terlalu penting memang, tidak usah kalian pikirkan.

    Akhirnya gue dan Ibu gue sampai di Taruna Bakti jam 8 tepat, lalu tanpa ampun langsung naik ke lantai 3 dengan renyahnya (tidak, tidak ada elang disini. Gue masih pakai tangga). Setelah sampai di lantai 3, gue dan Ibu gue akhirnya menemukan ruang daftar ulang setelah sebelumnya sempat menanyakan ke sekumpulan Kakak kelas yang juga sedikit kebingungan, entah mereka kehilangan konsentrasi begitu melihat wajah rupawan gue *muntah darah*. Ruang daftar ulang berada tidak jauh dari kelas X-8, kelas gue saat ditest dulu. Saat gue masuk, ternyata kondisinya masih.sangat.sepi, gue menjadi siswa pertama yang daftar ulang pada hari itu, maka dari itu gue pun diberi penghargaan yang diakui oleh Lembaga Jomblo Indonesia *diarak keliling kota*.

    Di ruangan itu hanya terdapat 2 guru dan beberapa petugas lainnya. Gue dan Ibu gue pun masuk. Setelah gue dan Ibu gue duduk, guru itu pun menanyakan nama gue, gue kira setiap siswa yang keterima Twitternya akan difollow oleh akun Taruna Bakti. Tapi gue salah, ternyata mereka menanyakan nama untuk memastikan bahwa gue memang diterima. Setelah menemukan nama gue, Ibu guru tadi (yang diketahui bernama Bu Erni, guru Geografi) dan Ibu gue mulai membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah, bahkan diantaranya tidak gue mengerti, mulai dari masalah buku, seragam, pembayaran dan berbagai macam hal lainnya. Sungguh tidak menarik untuk didengar.

    Mungkin karena melihat wajah gue yang kebingungan mendengar pembicaraan Ibu-Ibu soal sekolah, maka 1 guru lagi mengajak gue untuk mencoba seragam. Dan ruang untuk mencoba seragam ada di sebelah ruang daftar ulang. Di ruang itu gue ditemani 1 Bapak guru dan 2 orang petugas. Gue mulai dengan mencoba seragam putih, dilanjutkan dengan mencoba rompi atau apapun itu namanya, berlanjut lagi ke baju olahraga, dan diakhiri dengan ganteng saat mencoba sepatu. Lalu semua itu selesai begitu saja, bagaikan ikan yang diterjang ombak di kejauhan malam yang begitu dingin dan mencekam. Mengerikan sekali, aku harap aku tidak bertemu Justin Bieber di persimpangan jalan, atau masa depanku akan dihabiskan dengan dipenuhi rasa cemas, entah kenapa.

    Begitulah, setelah selesai dengan urusan seragam, gue kembali ke Ibu gue di ruang sebelah. Dan Ibu gue tampaknya sedang membicarakan tentang buku dan seragam hasil percobaan tadi. Setelah itu Ibu gue hampir selesai berurusan dengan Bu Erni. Dan saat mereka sedang membicarakan tentang pembayaran (atau apapun itu namanya yang berurusan dengan uang), Bu Erni bilang bahwa uang pembangunan, SPP, DPS, TBC, ACM atau apapun itu sebutannya harus dibayar lewat salah 1 bank, yaitu OC*BC NI*SP. Karena Ibu gue belum punya rekening bank tersebut, maka Ibu gue harus membuka rekening di Bank tersebut, hari ini juga. Bu Erni pun memberitahukan kepada gue bahwa Bank OC*BC terdekat lokasinya berada tidak jauh dari Taruna Bakti, bahkan bisa dicapai dengan jalan kaki. Setelah Bu Erni memberikan peta singkat (coretan pulpen) dan juga surat pembayaran yang rumit nan membingungkan. Gue dan Ibu gue pun keluar dari ruang Daftar Ulang. Oh iya, sebelum keluar, Bu Erni sempat kasih stiker mobil bertuliskan "SMA Taruna Bakti" yang akhirnya gue pasang di mobil gue.
    Keadaan stiker sebelum ternodai (baca: dipasang di mobil)

    Setelah itu gue dan Ibu gue pun keluar dari gedung Taruna Bakti dan memulai perjalanan ke Bank OC*BC NI*SP, tentu dengan berjalan kaki, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah sekitar 15 menit berjalan, akhirnya gue dan Ibu gue menemukan letak Bank tersebut, walaupun sempat bingung karena jalannya sedikit memutar. Gue dan Ibu gue masuk, ambil nomor antrian lalu duduk dengan manisnya di kursi tunggu. Beberapa saat kemudian nomor antrian gue pun dipanggil, gue dan Ibu gue dengan sigap langsung berhadapan dengan Petugas.Bank.Yang.Bertugas.Membuat.Rekening. Ibu gue pun mulai berbicara dengan niatan membuka rekening di Bank itu atas dasar SMA Taruna Bakti (yang memang sudah bekerja sama dengan Bank ini), lalu mereka pun mulai membicarakan hal yang gue tidak mengerti.

    Lalu di sebelah meja tempat Ibu gue buka rekening, duduklah seorang Bapak dan Anaknya yang tampaknya akan buka rekening juga. Awalnya gue biasa aja, sampai mereka mengatakan "Angkat tangan semuanya? Saya perwakilan Analis Jomblo Nusantara, akan memeriksa kalian semua apakah ada yang jomblo atau tidak. Allahu Akbar!!". Eh maaf jadi ngawur gini, maklum jomblo. Bapak itu berkata ke Ibu gue "Anaknya daftar di Taruna Bakti juga, Bu?" mungkin dia menanyakan hal tersebut karena melihat gue yang pakai seragam sekolah. Ibu gue pun jawab "Iya, Pak. Anak Bapak juga daftar di Taruna Bakti ya?" dan inilah yang memulai perbincangan antar orang tua ini. Anak si Bapak tadi diketahui bernama Radityo Wahyu. Yang pertama kali liat pasti mengira bahwa dia Chinese, karena tinggi, putih dan telihat sedikit sipit. Padahal bukan, telah dijelaskan bahwa anak yang dipanggil Adit ini adalah cowo keturunan Jawa-Sunda, sama seperti gue, dan juga menjadi siswa Daftar Tunggu yang keterima di SMA Taruna Bakti. Setelah beberapa menit berbincang, Adit dan Bapaknya pun telah selesai dengan urusan rekening dan berpamitan ke gue dan Ibu gue. Dan gue pun masih harus menunggu lebih lama untuk soal rekening.

    Beberapa menit menunggu, akhirnya Ibu gue resmi memiliki rekening di Bank OC*BC NI*SP yang sepenuhnya akan digunakan untuk bayar sekolah gue selama di SMA Taruna Bakti. Lalu Ayah gue mentransfer ke rekening itu untuk uang pembangunan dan yang lainnya (yang harus dibayar hari ini juga) dan menjalani proses beberapa menit lagi, dan akhirnya persoalan rekening selesai, dan gue harus kembali lagi ke Taruna Bakti, lalu dapat pulang dengan ganteng, tapi masih tetep jomblo. Setelah sampai di Taruna Bakti (lagi) gue dan Ibu gue pun langsung ke lantai 3, lebih tepatnya menuju ruang Daftar Ulang, yang tampaknya sudah ada beberapa siswa yang daftar ulang. Ibu gue hanya sebentar disana, karena hanya mengurus masalah pembayaran. Beberapa menit kemudian, Ibu gue selesai dengan urusan Daftar Ulang dan gue secara resmi dapat bersekolah di SMA Taruna Bakti. Alhamdulillah, begitu menyenangkan. Setelah itu gue keluar dari gedung Taruna Bakti dengan perasaan bahagia. Lalu pulang ke rumah dengan taksi.

    Entah apa yang gue rasakan saat berada di rumah. Karena begitu senangnya bisa bersekolah di SMA Taruna Bakti selama 3 tahun ke depan, meski awalnya sempat pesimis, putus asa dan hilang harapan. Tapi dengan doa dan keyakinan, apapun bisa terjadi. Oh iya, gue juga mau berterima kasih untuk semua yang mendukung gue. Dari orang tua gue yang sudah menanggung biaya sekolah di SMA Taruna Bakti, Rudi yang memberikan semangat lewat Twitter, Fawwaz dan Gemila yang memberikan dukungan secara langsung dan semua teman yang lainnya. Termasuk juga Dhafin yang bilang kalo ikut test di SMA Taruna Bakti itu sama dengan cari mati, dan kali ini gue membuktikan bahwa dengan ikut test disini kita tidak akan mati, kecuali kalo kita terjun dari lantai 4. Terima kasih juga kepada teman yang bilang bahwa daftar di Taruna Bakti adalah pilihan bodoh, karena nem gue bisa dibilang lumayan untuk daftar ke Negeri, minimal ke SMAN 11 Bandung yang memang bagus. Pokoknya terima kasih untuk semua orang yang support gue, terutama teman gue di SMPN 43 Bandung. Terima kasih juga atas 3 tahun kebersamaan kita, semoga bisa bertemu lagi di lain waktu.

    Dan gue sadar. Setelah keterima disini, gue harus lebih baik lagi dari sebelumnya. Gue harus membuktikan kalo gue bisa keterima disini bukan hanya keberuntungan belaka, tapi karena sebuah perjuangan. Gue harus yakin bahwa di SMA ini gue bisa berubah dan bisa sukses di masa mendatang, amin.

    Sekali lagi, terima kasih sudah membaca kisah Trilogi gue di SMA Taruna Bakti itu. Maaf bila ada salah kata ataupun ada yang tersinggung, saya mohon maaf. Sampai bertemu di tulisan saya yang lain. Wassalam :D
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Minggu, 28 April 2013. Inilah hari kedua gue menjalani testing di SMA Taruna Bakti. Dan hari ini adalah test Bahasa Inggris dan Test Potensi Akademik (TPA). Tidak jauh berbeda seperti kemarin, jam 6.40 gue sudah siap dengan gantengnya dan siap berangkat ke Taruna Bakti. Dan entah kenapa hari ini gue lebih siap. Setelah kemarin menghadapi test yang mudah, susah, panik, galau dan berbagai macam ekspresi lainnya. Dan masih tetap berharap soalnya mudah. Maklum lah, namanya juga hidup #MentalPelajar.

    Jam 6.45 gue berangkat ke Taruna Bakti, skenarionya sama seperti kemarin. Berangkat bareng Ayah gue, lewat jalan rumit, hilang di peta, ganteng, jomblo dan sebagainya. Jam 7-an gue sampai di Taruna Bakti. Tapi kali ini suasana yang gue lihat sedikit berbeda. Tidak ada siswa SMP ngumpul, setidaknya untuk mendiskusikan bagaimana cara membuat pengawas tidur, atau membicarakan siswa jomblo yang HP nya kejebur (eh, itu mah gue ya?). Ya, tidak ada keramaian siswa SMP disini, tidak ada cowo yang sendirian kesepian dan butuh kehangatan. Seperti tidak ada kehidupan disini, kecuali mungkin satpam. Apakah spesies manusia berumur 14-15 tahun sudah punah? Oh Tuhan, tolonglah diriku seorang *kemudian bersujud*.

    Ah, itu berlebihan, apa yang kalian pikirkan? Ternyata, begitu datang semua siswa diperintahkan untuk langsung naik ke lantai 4, jam berapapun datangnya. Itulah yang membuat gerbang sepi, maka dari itu gue pun naik ke lantai 4, dengan beberapa siswa yang datang bersamaan dengan gue. Begitu sampai, gue langsung menuju ruang 18. Sudah lumayan banyak yang datang, ada yang sama orang tua, temen bahkan pacar *inget nasib*. Tapi, hei, ini baru jam 7 pagi, test dimulai jam 8, jadi kita 'terpaksa' nunggu sekitar 60 menitan lah, ngeri. Jadi selama periode itu gue melakukan hal yang gue lakukan kemaren untuk menunggu jodoh yang tak kunjung tiba bel berbunyi. Ya, seperti melihat sekeliling, mondar-mandir, iseng ngerjain soal B. Inggris atau soal TPA untuk test hari ini, iseng terjun dari lantai 4 (eh, nggak gini juga deng), dan berbagai macam kegiatan lainnya, termasuk meratapi nasib sambil melihat orang pacaran *nangis*.

    Seperti yang sudah gue katakan, gue terkadang mengerjakan soal latihan B. Inggris sambil nunggu bel, dan banyak juga yang melakukan hal yang sama seperti gue. Jadi, agar terlihat berbeda dan lebih jantan, gue mengerjakan soal dengan memasang tampang ganteng, alis naik 1 ke atas, duduk di bawah, mulai mengerjakan, lalu berteriak "Kampret!! Ini kok soal susah banget ya?!". Bagi kalian yang membaca ini, mungkin hal yang gue lakukan kurang penting dan tidak akan diliput oleh ESPN ataupun TV5 Monde (Prancis). Tapi bagi kami semua yang saat itu mengikuti test, hal ini mungkin bisa menentukan apakah kami akan keterima atau tidak. Apa sih yang aku pikirkan.

    Oiya, mungkin diantara kalian ada yang bertanya bagaimana nasib selebaran yang digunakan untuk memilih jurusan. Apakah gue sudah mengisinya dengan benar atau malah menjadikannya sebagai bungkus gorengan? Oh tentu tidak, gue sudah mengisinya dengan benar, dengan jurusan yang sudah benar-benar gue yakini. Oiya, di seleberan itu ada 4 pilihan jurusan untuk siswa kelas X, ini dia :

    1. Sains dan Matematika
    2. Sosial
    3. Sosial, bila tidak diterima di penjurusan Sains dan Matematika
    4. Sains dan Matematika, bila tidak diterima di penjurusan Sosial.

    Yah kira-kira begitulah kata-katanya. Dan menurut perkiraan gue, siswa yang memilih pilihan nomor 1 dan 3 akan lebih banyak dari siswa yang memilih nomor 2 dan 4. Apalagi nomor 4, mungkin hanya pria sejati yang akan pilih nomor 4. Dan mungkin kalian ingin tau gue memilih yang mana. Dan setelah gue bertapa selama 40 hari di Gunung Vesuvius (gak gini juga kali, ya?) dan meminta petunjuk kepada Allah SWT, akhirnya gue membulatkan pilihan. Gue memilih nomor 4. Ya, gue memilih jurusan yang dipilih para pria (kalo ada cewe yang milih berarti cewe itu 'terlalu' cowo untuk menjadi cewe). Kenapa dibilang pilihan para pria? Mari simak kalimatnya "Sains dan Matematika, jika tidak diterima di penjurusan Sosial". Jadi siswa yang milih nomor 4 ini pada intinya ingin masuk jurusan Sosial, tapi jika tidak diterima mereka 'rela' masuk ke jurusan Sains dan Matematika. Bagi gue ini sedikit konyol. Kita tau sendiri bahwa di Indonesia kebanyakan siswa SMA lebih memilih jurusan IPA daripada jurusan IPS, dengan alasan agar lebih mudah diterima kerja. Tapi kalo di jurusan Sosial gak keterima, apalagi di jurusan Sains dan Matematika. Bisa aja sih, tapi peluang nya mungkin tidak terlalu besar. Ah oke, sudah basa-basinya, mari lanjut ke test.
    Pilihan para pria sejati.
    Test Pertama : Bahasa Inggris
    Jam 8 tepat, bel dibunyikan dan ada perintah memasuki ruang ujian. Skenarionya sama seperti kemarin, masuk ruang ujian dengan tertib, tidak rusuh dan duduk di bangku yang kemarin lagi, lalu semua siswa 'pura-pura' duduk siap, menunggu pengawas masuk kelas. Beberapa saat kemudian pengawas masuk, Ibu-Ibu berjilbab, lalu membagikan soal dan LJK. Setelah selesai membagikan soal dan LJK ke seluruh siswa, Ibu-Ibu ini bilang "Nah, di soal ini ada beberapa bagian soal Listening, yang tidak ada test soalnya. Nanti akan ada pemberitahuan lewat pengeras suara untuk soal Listening. Sekarang kalian kerjakan dulu soal biasa ya". Dan pas dilihat soalnya, emang bener ada soal yang tak berteks soal, ada yang hanya gambar lalu jawaban dan ada juga mengisi kata-kata yang kosong. Maka dari itu gue kerjakan soal berteks dulu. Kali ini tingkat kesulitan soalnya seperti campuran soal Matematika dan B. Indonesia kemarin. Ada yang gampang dan ada yang membuat gue njelimet alias ngebingungin.

    Beberapa saat kemudian, ada pemberitahuan lewat pengeras suara (yang ada di tiap kelas) bahwa soal Listening akan segera dimulai. Semua siswa saat itu pun mulai fokus ke soal Listening. Oiya, soal Listening ada 4 part. Dan soal Listening Part 1 pun dimulai, soalnya hanya berupa gambar lalu pilihan jawaban. Seperti ada gambar tas wanita, kunci mobil dan dompet, begitulah seterusnya. Dan ternyata untuk soal Listening ini memakai suara bule beneran, seperti TOEFL gitu deh. Mulailah soal Listening part 1. Pertama ada cowo ngomong ke cewe dalam Bahasa Inggris "Apa saja isi tasmu?" lalu cewe itu menjawab "Ih kepo deh kamu" "Ada dompet dan telefon genggam" dan diulangi sekali lagi. Lalu dari percakapan itu kita tinggal memilih jawaban. Begitulah seterusnya, ada yang gambar liburan, gambar di bengkel dan yang lainnya. Sedikit membingungkan juga memang. Bingung mencerna kalimat apa yang dikatakan si bule tadi.

    Setelah selesai part 1, kita lanjut ke part 2. Dan part 2 ini bercerita tentang wisatawan yang menanyakan tentang informasi saat dia berkunjung ke Kebun Binatang atau semacamnya, dan kita disuruh mengisi kata-kata yang kosong dalam suatu kalimat. Ada 10 soal kalo gak salah, dan sekitar 3 soal pertama gue berhasil mengerjakannya dengan lancar jaya, tapi soal nomor 4 sedikit membingungkan. Soalnya kira-kira begini (dalam Bahasa Inggris) "Lalu kami berjalan melewati sebuah akuarium raksasa, kami berjalan dalam ____ yang begitu panjang" begitulah. Gue tau itu maksudnya wahana eskalator yang ada di dalam akuarium seperti di Sea World itu loh, tapi sekali lagi yang membingungkan itu tadi si bule ngomong apaan?! Akhirnya dengan penuh rasa ganteng dan percaya diri, gue mengisi kata-kata yang kosong tersebut dengan "Cave" entah "Labrinth" gue lupa hehe (ketauan deh begonya, duh gawat nih *jual diri*). Mungkin tidak masuk akal, tapi namanya juga terdesak, mau gimana lagi. Lalu sisa 6 soal lagi sebagian gue jawab dengan lancar jaya dan ada juga yang (masih tetap) membingungkan.

    Selesai dengan Kebun Binatang, kita lanjut ke part 3 dan part 4. Dan sejujurnya gue lupa soal itu tentang apa, yang gue inget dari part 3 kalo gak salah tentang cerita dongeng gitu, dan part 4 tentang liburan kalo gak salah. Jadi maaf gue gak bisa ceritain disini hehe. Oh, mungkin ada siswa SMP lain yang bulan lalu ikut test di SMA Taruna Bakti juga (dan kebetulan sedang membaca tulisan ini) untuk membantu saya mengingat apa saja soal Listening part 3 dan part 4 pas test Bahasa Inggris? Terima kasih huehehe. Adakah?

    Soal Listening berjalan sekitar 35 menit, dan waktu total yang disediakan hanya 1 jam. Itu berarti kita hanya punya 15 menit untuk mengerjakan soal teks, dan kira-kira ada waktu 10 menit sebelum soal Listening dimulai (dari mulai pembagian soal tadi loh). Jadi waktu itu tersedia 15 menit lagi, dan sialnya (lagi) ada beberapa soal membingungkan yang gagal gue jawab. Beberapa saat kemudian mulai banyak siswa lain yang mengumpulkan LJK nya. Waktu pun tersisa 10 menit lagi. Dan tinggal sedikit siswa yang belum selesai 'bertempur' dengan soal, termasuk gue. Karena saat itu gue benar-benar panik untuk yang kedua kalinya (yang pertama saat test Bahasa Indonesia kemarin), akhirnya gue pun menerapkan cara seperti kemarin lagi, yang hanya boleh diterapkan saat kita dalam keadaan panik saja.Ya, gue mengerjakan beberapa soal dengan asal-asalan, langsung hajar tanpa liat soal, mengisi Like a Boss, dan mengovalkannya tidak rapih pula. Lalu dengan rasa yang panik gue pun mengumpulkan LJK dan soalnya, dengan penuh rasa putus asa, tapi masih tetap berharap dengan sedikit keberuntungan gue bisa keterima di sekolah ini.

    Lalu bel dibunyikan lagi dan semua siswa pun keluar ruangan untuk beristirahat selama 30 menit. Test kedua adalah Test Potensi Akademik (TPA) katanya semacam psikotest gitu deh. Maka dari itu selama 30 menit yang berharga itu gue menghilangkan melihat sekeliling dan terjun dari lantai 4 dari daftar kelakuan gue selama istirahat. Jadi selama 30 menit itu gue benar-benar mengerjakan soal latihan TPA untuk tingkat SMA dari buku yang gue bawa dari rumah. Awalnya cukup membingungkan, karena gue jarang mengerjakan soal psikotest dan semacamnya. Tapi akhirnya secara bertahap gue bisa beberapa, lumayan lah. Setelah 30 menit berjuang mengerjakan soal, akhirnya bel masuk dibunyikan kembali. Kami pun masuk ke ruang ujian untuk menjalani tes psikotest. Bismillahirrahmanirrahim. Mari kita mulai.
    Salah 1 soal yang gue kerjakan. Semoga jawabannya bener.
    Test Kedua : Test Potensi Akademik
    Beberapa menit menunggu, pengawas masuk. Lagi-lagi Ibu-Ibu. Sebelum menyimpan tas masing-masing di depan kelas, pengawas menyuruh semua siswa untuk membawa selebaran untuk memilih jurusan tadi. Setelah mengambil selebaran tadi, pengawas menyuruh untuk meletakan selebaran itu di sudut meja sebelah kiri, nanti pengawas akan keliling untuk ngambil selebaran tadi. Okedeh, setelah itu Ibu pengawas membagikan soal dan LJK nya. Setelah mengisi data diri di LJK, gue melihat soalnya. Lalu, ebuset, soalnya ada 60 entah 50 kalo gak salah dan lumayan rumit. Ada sih yang kayanya sama seperti yang gue kerjakan tadi, tapi ada juga soal cerita yang rada membingungkan. Gue pun mengerjakannya sambil baca Bismillah aja (begitupun di 3 pelajaran sebelumnya) dan berharap jawaban gue benar dan gue bisa keterima disini. Soal angka ada yang gue kerjakan dengan lancar dan lagi-lagi masih ada yang membuat gue bingung. Soal cerita benar-benar membuat kita malas, harus membaca panjang-panjang lalu menyimpulkan dan menjawab dengan rasa lapar (karena abis mikir keras di Soal Listening B. Inggris tadi). Ain't Nobody Got Time For That.

    Untuk yang kedua kalinya gue gak bisa menjelaskan secara detail soal yang ada di test nya, gue lupa nih hehehe. Ya mungkin kalian tau sendirilah soal test psikotest untuk SMA gimana rupanya, terkadang menyebalkan juga. Dan yang menyebalkan dalam test ini adalah jumlah soalnya yang tidak sebanding dengan waktu yang disediakan. Soalnya kalo gak salah ada 60 sedangkat waktunya 60 menit. Ya bisa sih, 1 soal 1 menit. Tapi itu hanya bisa dikerjakan oleh anak dengan otak yang versi bukan manusia. Sedangkan gue yang otaknya versi manusia purba yang mungkin menulis saja masih diatas tulang ayam. Jadi untuk yang ketiga kalinya gue panik lagi saat test di SMA Taruna Bakti, dan itu yang membuat gue mendapat penghargaan sebagai siswa terpanik di Taruna Bakti, sudah ditandatangani oleh Om Lemon (yang suka nonton Rekreasi Azis Nunung pasti tau Lemon itu siapa) dan diakui oleh Badan Kejombloan Nasional. Jadi saat waktu tersisa 15 menit lagi dan ada beberapa soal yang belum gue isi (karena bingung), gue lagi-lagi melakukan hal yang sama dengan yang gue lakukan saat test B. Inggris dan B. Indonesia. Ya, gue menjawab dengan asal-asalan untuk yang ketiga kalinya. Gue udah bener-bener panik dan putus asa saat itu. Jadi gue 'terpaksa' melakukan hal bodoh itu, lagi dan lagi.

    Mengerikan juga sih, 3 mata pelajaran sekaligus gue jawabnya asal-asalan karena didasari rasa kepanikan tingkat tinggi. Dan gue juga takjub sama beberapa siswa yang bahkan sudah selesai 30 menit sebelum selesai, disaat gue sedang mencari bantuan dari Tuhan untuk mengerjakan soal. Yah, cara ini oleh kalian jangan sesekali ditiru ya kalo lagi test dimanapun itu. Mungkin boleh diprakterkan, tapi hanya dalam keadaan yang benar-benar panik hehehe.

    Akhirnya bel pulang dibunyikan dan kami yang belum selesai pun keluar dari kepanikan. Pengawas bilang yang sudah selesai untuk meletakkan LJK, soal dan selebaran untuk milih jurusan tadi tetap di meja, nanti Ibu pengawas itu akan mengambilnya. Jadi begitu selesai, kami semua ambil tas lalu keluar ruang ujian untuk kemudian pulang dengan penuh kedamaian. Oh tidak, mungkin masih dihantui rasa tidak damai sampai pengumuman siapa saja yang diterima di sekolah ini. Pengumuman sendiri akan diumumkan tanggal 6 Mei 2013 lewat Website Taruna Bakti dan lewat papan pengumuman yang ada di Taruna Bakti. Yah, setelah ini tugas kita hanya tinggal menunggu dan berdoa.

    Gue pun turun kel lantai 1 lalu keluar dari gedung Taruna Bakti. Gue menunggu dijemput oleh Ayah gue, jadi gue hanya diam di sekitar gerbang masuk Taruna Bakti, bersama siswa SMP lainnya yang masih mengobrol sama temannya atau hanya sekadar menunggu dijemput oleh orang tuanya juga. Beberapa saat kemudian gue disuruh menunggu di depan Pengadilan Negeri Bandung yang lokasinya bersebelahan dengan Taruna Bakti, sebentar lagi Ayah gue datang. Dan saat menunggu Ayah gue datang, gue lihat ada temen SD gue, Dio Panji yang ternyata ikut test juga disini. Kok gue gak tau ya hahaha. Jadi total dari SD gue ada 3 orang yang ikut test di SMA Taruna Bakti. Gue sendiri, Tyani yang gue temuin kemaren (dia ada di ruang 11) dan Dio Panji. Beberapa saat kemudian, Ayah gue pun datang dan gue pun pulang ke rumah dan masih tetap berharap.

    Mungkin sekian dulu untuk testing-nya. Nanti Insya Allah saya akan menambahkan foto deh hehehe. Maaf jika kepanjangan, dan terimakasih jika anda sudah membaca (apalagi memberi saran atau kritik). Oiya, jika ingin melihat testing hari pertama bisa klik disini. Ya, akhir kata. Sekali lagi terima kasih karena sudah membaca. Semoga kita selalu diberi yang terbaik oleh Allah SWT, amin. Wassalam :D
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Sabtu pagi, 27 April 2013. Sekitar jam 6.30 pagi, gue sedang bersiap-siap untuk menghadapi hari besar yang akan gue jalani selama 2 hari kedepan. Yaitu, testing di SMA Taruna Bakti!! Ya, selama 2 hari kedepan gue akan ikut sebuah test kegantengan yang mungkin akan merubah hidup gue kedepannya (halah). Maka dari itu gue bener-bener bersemangat hari ini. Hari ini adalah test Matematika dan Bahasa Indonesia. Tapi bukan hanya gue (dan orang tua gue) yang bersemangat. Ternyata teman-teman gue juga bersemangat, salah satunya Rudi. Yang mengirimkan kata-kata penyemangat itu lewat Twitter. How sweet :)
    Manis Sekali :)
    Sekitar jam 6.45 gue udah tampil dengan gantengnya untuk menghadapi test ini (aku tidak pakai baju ala Lee Min Ho disini. Hei, ini kan testing?!). Memakai seragam berlambang 43 dengan gagahnya, lengkap dengan lencana, kaus kaki sekolah dan jam Puma berwarna putih-merah. Dan gue terlihat begitu ganteng, unyu dan nasionalis. Tidak lupa juga gue bawa pasukan alat tulis yang dipakai saat Ujian Nasional kemaren, dengan alasan pengalaman. Sengaja gue pilih pensil yang dipake UN daripada pensil baru. Karena pensil baru kemungkinan masih grogi dalam menghadapi test besar seperti ini. Takut-takutnya nanti pas mau ngisi jawaban malah salah semua lagi. Oiya, tak lupa gue pakai jaket merah anti-air kesayangan gue, agar terlihat lebih jomblo. Menarik, bukan?

    Jam 6.50 gue berangkat ke Taruna Bakti bareng Ayah gue, melewati jalan yang lebih rumit dan mungkin tidak ada dalam Google Earth. Akhirnya sekitar jam 7.10 gue sampai di Taruna Bakti. Saat gue sampai ternyata cukup banyak juga jomblo berkeliaran orang yang jual papan ulangan. Salut deh, mereka bahkan tau jadwal test di SMA Taruna Bakti, totally respect. Dan saat gue masuk ke gerbang, belum terlalu banyak siswa SMP lain yang mau nyari jodoh ikut test. Mungkin karena test dimulai jam 8 pagi, jadi siswa lain belum pada datang. Atau entah gue yang datang terlalu pagi, entahlah.

    Beberapa menit kemudian udah cukup banyak siswa yang datang. Dan gue liat siswa yang akan jadi saingan gue benar-benar mengerikan. Tidak, mereka tidak membawa sniper untuk membius pengawas ke ruang ujian. Maksudnya adalah mereka kebanyakan berasal dari SMP 5, SMP 2, SMP 7, SMP 13, SMP Taruna Bakti, SMP Istiqomah dan berbagai macam SMP favorit di Bandung. Sementara gue sendiri bersekolah di SMPN 43 Bandung. Sekolah yang prestasi akademiknya bisa dibilang 'biasa aja' tapi tetap terkenal karena kejombloan gue eskul wajibnya (PMR, PKS, Paskhara dan Pramuka) yang sering jadi juara di Kota Bandung, bahkan Jawa Barat. Dan karena alasan itulah awalnya gue sempet gak yakin bakal diterima di sekolah ini. Eits, tapi pertandingan belum dimulai, gue gak boleh kalah sebelum bertanding :)

    Gue menghadapi 'masalah' kedua disini. Yaitu....kelihatan jomblo dan kesepian (walaupun emang bener sih). Ya, SMP yang gue sebutin tadi dan SMP lainnya cukup banyak mengirimkan wakilnya untuk test di SMA Taruna Bakti, apalagi SMP Taruna Bakti yang bertindak sebagai tuan rumah. Jadi siswa SMP lain bisa tenang karena harapannya untuk dibilang forever alone berkurang, karena ada teman (bahkan pacar) yang menemani. Walaupun kemungkinan mereka nyontek amat kecil (karena di SMP orang), yang penting ada temen. Sementara gue? FYI, gue adalah satu-satunya perwakilan dari SMPN 43 Bandung yang ikut testing di SMA Taruna Bakti ini. Jadi, gue kesepian disini. Hanya ditemani kerupuk kulit, sebatang coklat dan cahaya dari Tuhan. Begitulah kira-kira. Jadi di depan gerbang masuk itu gue bisa dianggap 'kesepian didalam keramaian'. Gue hanya diam, pura-pura ganteng, lalu dipanah dan dijadikan babi guling. Tidak? Oke, mari ulangi. Gue hanya diam, pura-pura ganteng, berharap ada cewe cantik yang nyamper dan berharap tidak ada orang yang meneriaku gue dengan "Woy, lo jomblo ya?!" lalu mengarahkan shotgunnya ke arah gue, mengerikan. Tapi, ternyata ada juga yang tampaknya sendirian, kesepian seperti gue. Tapi, sangat disayangkan, orang itu ternyata laki-laki. Duh.

    Cahaya dari Tuhan agar gue gak kelihatan jomblo tampaknya mulai bersinar sekitar jam 7.30 saat panitia menyuruh semua peserta test naik ke ruang ujian yang ada di lantai 4 (ya, empat). Setelah berjuang dengan sepenuh hati, akhirnya gue sampai di lantai 4. Lalu gue liat Tyani, temen SD gue yang ternyata ikut testing juga, dan begitulah. Setelah ini gue bingung, nyari ruang ujian. Gue kebagian di ruang 18, dan sepanjang mata memandang gue hanya liat ruang 1-11. Hampir aja gue lompat dari lantai 4 karena putus asa, tapi gue inget gue masih jomblo, jadi gue urungin niat itu. Setelah bolak-balik dengan penuh rasa jomblo, akhirnya gue nemu ruang 12-18 yang ternyata terpisah dari lorong atau labirin atau apapun itu namanya. Oiya, ruang 18 itu adalah ruang paling ujung, ada di sebelah WC, dan berada di kelas X-8 (entah kenapa gue lagi-lagi bertemu angka 8, beruntung sekali). Tapi suasanya di sekitarnya enak, ada di dekat ruang terbuka.

    Test dimulai jam 8 pagi, sementara saat itu masih jam 7.30, jadi semua peserta test terpaksa menunggu selama 30 menit sebelum test dimulai. Gue mah cuman diem aja, melihat sekeliling, melihat siswa dari SMP lain (bahkan ada yang kayanya pacaran, aduh itu), berdoa agar testnya lancar dan sesekali mengerjakan soal matematika untuk test kali ini, menyenangkan sekali. Setiap ruangan berisi 20 orang, dan suasana kelas X-8 lumayan enak. Itulah yang membuat harapan gue keterima disini semakin bertambah, gue merasa lebih pede dan ganteng sekarang. Jam 8 tepat, bel dibunyikan dan ada perintah untuk masuk ruang ujian. Gue dan 19 orang lain masuk ruang 18 dengan tertib, tidak rusuh, apalagi sampai saling injak dan tidak ada yang berteriak "Saya belum kebagian. Allahu Akbar!!". Eh, bentar, itu mah pembagian sembako ya? Biarin deh.

    Gue duduk sesuai denah yang ada di pintu kelas, yaitu di baris kedua meja ketiga (siapa sih yang peduli?). Di depan gue ada cewe dari SMP 7, di samping kiri dan belakang gue cewe dari SMP 2, dan di kanan gue cowo yang gue lupa SMP nya dimana, hehe. Tapi walau saat itu gue 'diapit' oleh banyak siswa dari SMP favorit di Bandung (dan juga karena kebanyakan di ruang 18 adalah siswa dari SMP favorit), tapi gue saat itu yakin bisa keterima di SMA Taruna Bakti. Oke, pengawasnya masuk nih. Saatnya memulai test.....

    Test pertama : Matematika
    Sebelum test, seperti biasa pengawas menyuruh kita berdoa dulu agar cepet dapet jodoh test nya lancar. Oiya, pengawasnya adalah Ibu-Ibu berjilbab yang kelihatannya baik, karena tidak terlihat gergaji mesin di tangannya (siapa tau ada yang nyontek). Setelah berdoa, pengawas membagikan soal dan LJK. LJK di Taruna Bakti ini berbeda dengan LJK saat Ujian Nasional. Kalau LJK Ujian Nasional kolom untuk mengisi jawabannya berbentuk bulat, kalau di Taruna Bakti kolom untuk mengisi jawabannya berbentuk lonjong atau oval, unik juga.

    Setelah mengisi nama, nomor peserta, asal sekolah dsb. Gue akhirnya memberanikan diri buat buka soal, dan berharap soalnya mudah semua. Dan doa gue terkabul!! Soal matematika-nya adalah soal Ujian Nasional tahun kemarin (kemungkinan paket C), yang sudah sering sekali gue kerjakan untuk latihan sebelum Ujian Nasional beberapa hari yang lalu. Jadi, gue sudah hafal betul soal ini, bahkan mungkin tanpa ngitung dulu pun gue bisa menjawab soal ini dengan benar. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap soal dan agar tidak terlihat gegabah, gue tetap ngitung dulu sebelum menjawab, walaupun itu soal mudah. Dan saat membulatkan (atau lebih tepatnya melonjongkan) jawaban, gue selalu baca Bismillah dulu, dan berharap jawaban gue benar. Yah, namanya juga hidup.

    90 menit kemudian semua lembar jawaban dikumpulkan. Dan Alhamdulillah sekali, 40 soal test matematika kali ini gue kerjakan dengan amat.sangat.lancar. Tidak ada halangan sama sekali, paling hanya ada 1 atau 2 soal yang awalnya membuat gue bingung, tapi akhirnya ketemu juga jawabannya. Saat itu gue amat sangat percaya diri bisa keterima di sekolah ini, dan masih tetap berharap. Gue sangat bersyukur atas 'cahaya dari Tuhan' tadi, gue sangat senang sampai-sampai gue hampir terjun (lagi) dari lantai 4, tapi gue inget kalo gue ini masih jomblo. Setelah ngumpulin LJK, semua dipersilahkan istirahat selama 30 menit sebelum menjalani test Bahasa Indonesia. Selama 30 menit itu gue hanya makan roti yang gue bawa dari rumah dan kembali melihat sekeliling. Indah sekali hari ini. Subhanallah :)

    Test Kedua : Bahasa Indonesia
    Sekitar jam 10 pagi bel kembali dibunyikan dan kembali ada perintah untuk memasuki ruang ujian. Ya, inilah saat nya test Bahasa Indonesia. Gue masuk ruang ujian dengan sangat percaya diri (setelah test Matematika tadi) dan tetap berharap kalo soal Bahasa Indonesia adalah soal UN tahun kemaren, atau setidaknya soal yang pernah gue kerjakan selama latihan UN kemaren. Tapi ternyata soal B. Indonesia ini ternyata bertolak belakang dengan soal matematika tadi. Ya, anda benar, soalnya SUSAH BANGET COY!! Entah gue kurang beruntung atau memang soalnya susah. Dan gue perkirakan soal B. Indonesia ini adalah soal untuk SMA, entah itu benar atau gue aja yang belum belajar soal kaya gitu, gatau deh. Oiya, pengawasnya kali ini beda lagi, memang sama Ibu-Ibu, tapi kali ini gak pakai jilbab dan mukanya sedikit judes, tapi tampaknya baik hati. Tapi itu tetap gak bisa membuat soal ini kelihatan mudah. Haduh, mampus gue.

    Soal-soal yang tercantum benar-benar aneh dan gak pernah gue pelajari sebelumnya. Hiponim lah, homonim lah, dan berbagai macam kata aneh lainnya. Dibanding gue yang kelihatan gila mengerjakan soal ini, gue melihat siswa lain anteng aja mengerjakan soal. Entah karena mereka bisa, atau karena mereka tidak ingin menunjukkan ekspresi kesusahan mengerjakan soalnya, seperti gue ini. Selain tingkat kesulitan soal yang menurut gue sudah tingkat 'professional expert', sialnya lagi waktunya hanya 60 menit alias 1 jam!! Buset, mengerjakan 50 soal dalam 1 jam, dan harus membaca soal secara teliti dulu, bayangkan bagaimana ekspresi kesusahan gue waktu itu. Mungkin lebih mengerikan dari ekspresi saat kita BAB, apa sih yang gue pikirkan....

    Sungguh merepotkan mengerjakan 50 soal membaca dalam waktu 60 menit saja. Berbeda dengan matematika, kita disuruh mengerjakan 40 soal dalam waktu 90 menit, dan tidak ada membaca, menyebalkan. Alhasil, gue mengerjakan test B. Indonesia ini dengan susah payah, lebih banyak nebaknya. Mungkin jawaban gue yang jawab dengan penuh keyakinan lebih sedikit daripada jawaban asal, rasionya sekitar 1:20. Dan saat waktu tersisa 15 menit lagi, gue kaget karena ada siswa yang sudah selesai mengerjakan soalnya. Oh Tuhan, dia benar-benar ajaib. Bagaimana bisa dia mengerjakan 50 soal membaca dalam 45 menit? Hebat sekali. Gue memprediksikan dia akan masuk calon 7 keajaiban dunia beberapa tahun ke depan. Tapi ternyata, bukan hanya dia yang ajaib. Beberapa detik kemudian siswa lain menyusul mengumpulkan LJK nya masing-masing. Oh Tuhan, ada banyak anak ajaib di ruangan ini!! Sedangkan gue? Gue masih banyak yang belum selesai, sekitar 15 lagi mungkin. Disaat inilah gue benar-benar putus asa, hilang harapan dan membutuhkan bantuan dari Tuhan. Awalnya juga gue bener-bener sempat putus asa tidak keterima disini. Tapi, akhirnya Tuhan memberikan pertolongan dengan cara yang kurang menyenangkan.

    Jadi, disaat masa-masa kritis mengerjakan soal itu, gue masih ada kira-kira 15 soal belum dikerjakan. Sementara siswa lain kebanyakan sudah mengumpulkan, dan waktu tersisa sekitar 10 menit lagi. Apa yang harus gue lakukan? Akhirnya gue pilih cara cerdas tapi tidak tegas. Yang gue lakukan agar semua jawaban terisi adalah, jawab secara asal-asalan. Ya, inilah yang gue lakukan. Selama 10 menit tersisa gue mengerjakan 15 soal tersisa secara asal-asalan, tanpa lihat soal, bahkan ngebuletinnya pun asal aja, gak penuh dihitamkannya. Cara ini mengerikan emang, hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat. Setelah selesai dengan peristiwa darurat tadi, akhirnya gue mengumpulkan LJK gue ke pengawas. Gue menjadi salah 1 yang paling terakhir ngumpulin. Gue tetep berdoa semoga gue masih bisa keterima di sekolah ini.

    Oiya, sebelum dipersilahkan keluar ruangan. Oleh pengawas semua siswa diberikan selebaran untuk memilih penjurusan. Karena kurikulum baru ini menegaskan bahwa penjurusan di SMA sudah dimulai dari kelas 10. Oke, setelah masing-masing mendapat 1 selebaran. Kami pun berdoa. Setelah itu keluar ruang ujian. Ada yang berwajah gembira, ada yang galau, dan berbagai macam ekspresi yang dapat dilihat saat itu. Sementara gue memasang wajah gembira karena berhasil mengerjakan soal Matematika dan galau karena masih jomblo. Setelah itu gue dan beberapa siswa lain turun ke lantai 1. Ada yang langsung pulang, ada yang ngobrol dulu sama temen, dan ada yang nunggu dijemput orang tuanya, seperti gue. Beberapa menit kemudian Ayah gue datang menjemput. Dan gue pun meninggalkan gedung Taruna Bakti, tapi besok gue akan kembali lagi kesini :)

    Terima kasih bagi yang sudah membaca. Mohon maaf jika terlalu panjang. Semoga hari anda baik. Wassalam :D
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Rabu malam, 24 April 2013. Gue begitu seneng, karena besok adalah hari terakhir UN. Itu artinya gue bisa mengucapkan selamat tinggal kepada les, buku-buku berangka rumit dan semacam itu. Dan saat itu gue lagi belajar IPA untuk besok. Pada saat belajar gue membayangkan hari-hari setelah UN yang tanpa les, tidak ada belajar, yang ada hanya cara menghabiskan waktu sampai masuk SMA, dan teman-teman, dan juga ibadah. Menyenangkan sekali.

    Tapi, semua pikiran yang amat indah itu sempat terganggu saat Ibu gue menawarkan gue untuk ikut testing di SMA Taruna Bakti. FYI, Taruna Bakti adalah salah 1 Yayasan Pendidikan yang bisa dibilang bagus di Bandung. Pas gue SD awalnya gue mau ikut testing di SMP Taruna Bakti. Tapi apa daya saat gue mau daftar ternyata pendaftaran sudah ditutup. Apa daya si ganteng lewat gue pun akhirnya masuk di SMPN 43 Bandung, sekolah gue sekarang ini. Oke, balik lagi ke penawaran Ibu gue. Gue pun menyetujui penawaran yang sangat menggiurkan bagi anak sekolah itu karena, begitulah. Setelah itu Ibu gue bilang kalo kita harus daftar besok setelah UN, karena Jumat adalah batas pendaftaran. Gue juga ngajakin Fawwaz, siapa tau dia berminat. Tapi, dia gak mau dengan alasan mau daftar ke Sampoerna Boarding School yang nyatanya pendaftaran disana udah ditutup sejak tanggal 15 Maret yang lalu, kalo gak salah, miris. Akhirnya, setelah disetujui, Ibu gue besok akan ke sekolah untuk mengurus pendaftaran ke SMA Taruna Bakti.
    Setelah UN selesai, Ibu gue akhirnya datang ke sekolah untuk fotokopi rapot dan buat surat kelakuan baik. Awalnya gue gak yakin bakal dikasih surat kelakuan baik, karena gue dan anggota R-Bros lainnya adalah buronan paling dicari di SMPN 43 Bandung. Tapi, gue bernafas lega karena petugas TU mengizinkan gue untuk buat surat kelakuan baik dan status buronan kelas 15 pun dicabut dari diri gue. Kenapa bisa begitu? Apakah gue dicintai semua orang saat itu atau apakah gue adalah mahluk dengan masa jomblo terlama di SMPN 43 Banndung? Ternyata bukan. Gue bisa buat surat kelakuan baik karena guru yang membuat surat itu bilang ke gue "Kamu terlalu sempurna untuk jadi buronan" sambil menunjukkan ekspresi genit-genit dangdut. Semua orang yang ada disitu pun akhirnya bertepuk tangan dan bersuka cita, sementara status buron gue berubah menjadi lebih ganteng, yaitu pujaan. Bahkan gue mendapat 2 penghargaan. Yaitu sebagai orang pertama yang membuat surat kelakuan baik dan siswa terganteng tahun ini. Penghargaan yang terakhir itu diakui oleh WWF dan ditandatangani oleh Sutan Bhatoegana, Mentri Peduli Tampang dan Kegantengan Indonesia. Bahkan rencananya gue bakal diarak keliling Bandung, dan pada akhirnya dibakar dan abunya akan dipakai untuk bakar sate (?). Dan saya tetap jomblo.

    Oke, cukup basa-basinya. Setelah selesai buat surat kelakuan baik dan fotokopi rapot. Gue, Ibu dan Adek gue yang entah datang dari mana pun berangkat ke Taruna Bakti, Jalan LLRE Martadimanadinata No. 52 Bandung. Itu adalah kali pertama gue masuk ke gedung Taruna Bakti, bravo. Saat gue datang, suasana tampak sepi. Tidak terlalu banyak anak SD (di lantai 1 dipakai untuk SD Taruna Bakti) yang berkeliaran, dan makan rumput. Entah karena sifat jomblo pusaka gue yang membuat semua siswa saat itu masuk ke kelas masing-masing atau entah karena emang sepi saat itu, Wallahu a'lam. Seperti tidak ada kehidupan disini, tapi tidak terlihat tanda-tanda adanya meteor jatuh disini, membingungkan. Gue, Ibu dan Adek gue pun mempunyai tugas pertama, mencari kehidupan dengan menemukan TU SMA Taruna Bakti. Yang ternyata ada di lantai 3 (ya, lantai 3).

    Setelah naik ke lantai 3 dengan penuh keringat dan perjuangan. Gue pun akhirnya menemukan TU nya. Seketika itu juga gue pun langsung Sujud syukur sambil teriak-teriak "Allahu Akbar!! Terima kasih ya Allah, akhirnya doaku selama 17 tahun (dengan umur gue yang baru 14 tahun) terkabul!! Allahu Akbar!! I'm belong to Allah". Beberapa saat kemudian Rudi datang entah darimana dan melempar gue dari lantai 3 dengan alasan membuat onar dan menggangu ketenangan non-jomblo. Oke, mari berhenti berkhayahal dan mari kita lanjutkan kisahnya.

    Setelah sampai, Ibu gue duduk di kursi tunggu TU-nya, bersama seorang Ibu tak dikenal yang juga akan mendaftarkan anaknya. Dan pada saat yang sama gue lihat di meja TU nya ada seorang Ibu-Ibu yang duduk di depan petugas TU dan juga 2 siswi yang ada disamping meja itu, pemandangan mengerikan. Perkiraan gue kedua siswi itu sekolah di SMPN 13 Bandung. Dan awalnya gue kira 2 siswi itu bertugas menggoda Bapak TU itu agar bisa mendapatkan makanan gratis, eh salah fokus. Maksudnya agar bisa diterima di SMA Taruna Bakti. Ternyata perkiraan gue salah, mereka juga ternyata ingin daftar, dan tentu saja tidak ada makanan gratis.

    Beberapa menit kemudian Ibu dengan 2 siswi itu pergi meninggalkan ruang TU. Dan sekarang giliran Ibu-Ibu yang ada disebelah Ibu gue tadi yang mendaftar. Ternyata, setelah Ibu gue mengobrol dengan Ibu-Ibu tadi secara mencekam, tajam, basah dan dipenuhi oleh logika daripada imajinasi belaka (layaknya obrolan 2 orang Ibu-Ibu yang baru pertama kali bertemu), ternyata anak si Ibu itu dari SMPN 2 Bandung, ngeri coy. Gue pun akhirnya melihat-liat sekitar lagi, banyak cowo ganteng ternyata, ada yang (kayanya) blasteran malah. Untung gue gak lupa diri, kalo nggak mungkin gue udah dilempar Rudi dari lantai 3 untuk yang kedua kalinya. Tapi malahan gue melihat ada Bapak-Bapak yang lupa diri saat mau daftarin anaknya. Bapak-Bapak itu masuk dengan jantan, liar dan percaya diri (kok malah kaya harimau mau kawin ya?) dan berkata kepada petugas TU "Biarlah BBM naik, daripada BBM gak dibales!! Hahahaha!! Kemerdekaan di tangan kita!!" sambil berjoget-joget diatas meja, lalu Rudi datang lagi dan melempar gue dari lantai 3 (lagi, lagu dan lagi). Eh, sebentar, kok gue yang dilempar ya? Duh, salah fokus lagi #MaklumJomblo. Saya ralat, beginilah kira-kira percakapannya :

    Bapak-Bapak : "Pak, saya mau daftarin anak saya nih."

    Petugas TU : "Pak, apasih yang gak boleh buat Bapak seorang?". Eh salah, maksudnya "Surat kelakuan baik sama fotokopi rapot mana, Pak?"

    Bapak-Bapak : "Oh itu syarat pendaftarannya ya? Saya tidak bawa, Pak"

    Petugas TU : "Oh ya sudah, Pak. Besok kalau mau Bapak datang lagi dengan bawa persyaratan tadi. Kalo hari ini bisa sampai jam 2, dan kalau besok hanya sampai jam 9 pagi, Pak."

    BTW, saat itu waktu menunjukkan pukul 04.00 WJS (Waktu Jerman Sekitarnya) alias pukul 10.00 WIB (Waktu Indah Bersamamu), tsaahhh.

    Beberapa saat setelah Bapak tadi keluar ruangan, sekarang giliran Ibu Ibu tak dikenal tadi yang selesai mendaftar. Akhirnya, sekarang giliran gue untuk mendaftar. Yah, begitulah. Gue bantu Ibu gue mengisi kolom yang Ibu gue gak tau, seperti alamat kantor Ayah gue, yang gue pun lupa, haduhh. Dan NISN (atau apapun itu namanya) yang ada di Ijazah SD, yang gue gak bawa. Semua berjalan begitu saja, sampai akhirnya tanpa disadari gue selesai mendaftar, dikasih kartu peserta, dan berhak ikut test di SMA Taruna Bakti. Setelah keluar ruangan, gue pun terjun dari lantai 3 saking bahagianya. Lagi, lagi, lagi dan lagi (oke, hanya jomblo garis keras yang akan melakukan itu). Setelah sampai di lantai 1 (dengan tangga, tentu), gue keluar gedung Taruna bakti dengan perasaan bahagia. Mungkin sama bahagianya dengan jomblo yang akhirnya mempunyai pacar setelah 350 tahun menjomblo atau sama bahagianya saat kita tau bahwa Timnas Indonesia berhasil menjuarai Piala Eropa 5x berturut-turut. Menyenangkan, ganteng dan sangat panas.

    Saat gue sampai di rumah setelah sempat ke sekolah gue dulu bentar. Gue akhirnya menemukan 5 fakta tidak menarik yang disimpulkan dari kisah pendaftaran ini. Apa saja itu? Mari kita simak :

    1. Percaya atau percaya, gue daftar di Hari Kamis, dan testingnya akan dilakukan hari Sabtu-Minggu. Itu berarti gue jomblo mulia hanya punya Hari Jumat untuk beristirahat setelah 4 hari sebelumnya menghadapi kisah mengerikan yang dinamakan "Ujian Nasional". Hari Jumat itupun harus gue pakai untuk mengulang pelajaran untuk testing.

    2. Entah kebetulan atau tidak, gue mendapat nomor peserta 2013-443. BTW, sekolah SMP gue adalah SMPN 43 Bandung, dan nomor pesertanya 2013-443, entah kebetulan atau tidak. Biarlah Tuhan menjawab, kita hanyalah Hamba yang bertugas untuk beribadah kepada Tuhan #MendadakPuitis

    3. Dari beberapa temen di sekolah yang gue ajakin testing di Taruna Bakti, hanya ada 0 (ya, nol) orang yang berminat. Bukan karena biayan (mungkin), tapi karena waktunya mepet. Atau mungkin mereka menolak tawaran gue karena malas buat surat kelakuan baik. Karena mereka berpikir bahwa mereka sendiri adalah buronan paling dicari sepanjang masa.

    4. Ternyata petugas TU SMA Taruna Bakti itu mirip Pak Irawan. Guru Matematika sementara gue saat kelas 8 lalu. Nobody cares? Biarlah, udah biasa kok *nangis*

    5. Gue ganteng

    Salam dari si ganteng bernomor 2013-443.
    Begitulah, kisah trilogi bagian pertama tidak menarik gue saat daftar ke SMA Taruna Bakti beberapa waktu lalu. Bodoh? Gak jelas? Aneh? Ganteng? Laba-Laba? Biarlah, gue membuat trilogi ini untuk mengasah pengalaman nulis gue, kalau kata-kata diatas sesuai dengan artikel ini silahkan dikomentari dengan bijak. Oiya, gue juga membuat kisah ini agar bisa diceritakan ke anak cucu gue nanti. Begini kira-kira cerita gue ke cucu gue saat gue udah tua nanti : "Kakek dulu pas daftar SMA ketemu cowo ganteng loh, sepertinya dia blasteran deh. Untung Kakek dulu gak lupa diri. Coba kalo lupa diri, mungkin Kakek udah mirip Tom Cruise sekarang".

    Yah, begitulah. Maaf bila kepanjangan. Dan tunggu saja kisah gue selanjutnya. Terima kasih, Wassalam :D
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Yeah, gue kembali. Kali ini gue mau nulis kisah kemarin hari, tentang sebuah keributan di angkot. Tapi tenang, gue ngga bikin konser di angkot, ataupun ngigau lagi main konser rock di Pasifik. Tapi kali ini keributan tersebut adalah, ya, keributan aja biasa. Tidak lebih dari itu.

    Ya, kemaren setelah pulang gue berencana pulang bareng Adit. Gak biasanya gue pulang sama Adit. Biasanya juga gue pulang sendirian, jomblo mandiri. Gue pun naik angkot jurusan Cadas Elang seperti biasa. Yang gak biasa adalah bahwa angkotnya mirip dengan Suzuki APV (dan sepertinya masih baru) dan supirnya mirip Jendri Pitoy, mantan kiper Persib. Epic. Saat di angkot gak ada yang gue pikirkan selain pulang dan tidur dengan penuh suka cita. Gue dan Adit juga gak saling ngobrol, mungkin lagi males menggerakan mulut. Semua berjalan biasa aja sampai seorang Bapak-Bapak berkemeja hitam naik, di kursi depan. Yah, itu juga biasa aja sih. 

    Tapi semua berubah dari 'biasa aja' menjadi 'super biasa' (karena luar biasa udah terlalu mainstream) saat angkot sampai di perempatan Jl. Talaga Bodas - Jl. Burangrang (depan Ayam Goreng Suharti, orang Bandung pasti tau) seperti biasa, angkot itu berhenti di depan lampu lalu lintas, padahal lampu lagi hijau. Bagi gue yang sudah tiap hari naik angkot itu (mungkin kalo ada kartu anggota gue udah jadi Platinum Member kali ya), hal itu adalah hal yang biasa karena angkot Cadas Elang biasanya berhenti disana (biasanya jam pulang sekolah) buat nungguin anak SMP dan SMA Taman Siswa yang baru pulang sekolah. Yah, bagi gue hal itu biasa aja. Walaupun akhir-akhir ini gue berpikir bahwa kelakuan itu Like a Boss. Tapi biarlah, gak pernah ada yang protes soal ini. Dan pengendara lain pun gak pernah protes ke supir angkot soal ini. Mungkin karena mereka udah mengerti bahwa kelakuan supir angkot emang seperti ini.

    Oke, kembali ke Bapak-Bapak tadi. Ya, disinilah masalah dimulai. Saat angkot berhenti di perempatan (saat lampu hijau) ada motor klakson dari belakang, tapi itu udah biasa. Dan Bapak-Bapak yang duduk di bangku depan tadi mulai protes "Pak, kalo mau ngetem jangan disini dong. Ini kan lagi lampu hijau, jadi bisa menggangu pengendara lain." Dari tutur katanya, bisa gue simpulkan kalo Bapak ini orang terpelajar, ngomongnya aja EYD banget. Mungkin kurang seneng sama komentar Bapak tadi, supir angkot pun menjawab dengan lembut "Yah, namanya juga cari uang, Pak. Terpaksa harus gini caranya." Walau jawab tanpa emosi, si Bapak tadi menjawab lagi dengan rada keras "Ya tapi gak bisa gitu juga dong, Pak!!" supir angkot tadi gak bales, mungkin karena lagi gak mood berantem, padahal sesungguhnya dia adalah Muhammad Ali. Oke, sudah cukup berfantasinya, lanjut bercerita.

    Dan tanpa disangka, gue masih tetep ganteng setelah angkot tadi maju beberapa meter saja. Angkot yang gue naikin pun berhenti. Dan tanpa disangka, si supir angkot malah membalas omongan si Bapak tadi "Pak. Saya gak mau cari masalah sama Bapak. Lebih baik Bapak keluar aja dari angkot ini, Pak". Bapak-Bapak tadi pun keluar angkot dengan penuh emosi (padahal si supir angkot ngomong tanpa emosi). Tapi, yang jadi masalah adalah bahwa Bapak ini membanting pintu angkot tersebut. Sontak aja si supir angkot tersebut keluar dan menghampiri Bapak yang tadi lalu mendorongnya, mengerikan emang. Mereka berdua berantem di pinggir jalan. Gue, Adit dan beberapa penumpang lain hanya memperhatikan, karena menggangap perkelahian mereka gak akan berbahaya (ya emang gak sampe berdarah-darah sih). Yang gue liat, mereka cuman dorong-dorongan sebentar, hanya beberapa detik. Lalu si supir angkot naik lagi ke angkotnya dan Bapak tadi meneriaki apaan gitu ke supir angkot, gue lupa. Supir angkot itu pun membalas teriak "Ehh, dasar gak tau diri!!" kalo gak salah sih gitu. Dan sesudah itu semua berjalan baik-baik aja dan gue sampe rumah dengan selamat dalam keadaan ganteng.

    Dari kisah ini gue bisa menyimpulkan bahwa si supir angkot itu sebenernya baik. Dia gak mau cari masalah, dia ngomongnya aja gak marah-marah. Dan setelah kejadian dia masih bisa senyum ke penumpang lain. Cuman gara-gara si Bapak tadi aja yang ngebanting pintu, si supir angkot ini jadi emosi beneran. Mungkin si Bapak-Bapak tadi lagi punya masalah atau gimana kali ya.

    Dan yang kedua. Beberapa hari kemudian, gue liat si supir angkot yang tadi masih pake mobil yang sama. Dan tampaknya mobil ini masih baru, terbukti dengan kursi yang masih diplastikin dan masih mulus. Pantesan si supir angkot ini bener-bener marah. Ya siapa sih yang gak marah kalo pintu mobil kita dibanting sama orang gak dikenal (lha dibanting sama orang terdekat aja marah, apalagi sama orang lain.)

    Yah, begitulah cerita gue beberapa hari yang lalu. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, khususnya bagi gue sendiri. Dan buat supir angkot, tetap sabar dan semangat ya. Dan juga untuk Bapak-Bapak tadi, cobalah untuk menahan emosi, Pak. Bapak boleh protes, tapi menurut saya cara Bapak salah. Maaf juga buat kata-kata yang salah dan maaf juga buat pihak yang merasa tersinggung. Saya menulis ini buat pengalaman hehehe. Wassalam :)
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Older
    Stories

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Selamat datang di blog Hai Haykal ! yang merupakan pelopor tulisan tidak berguna sejak tahun 2011. Kami tidak bertanggung jawab atas gangguan mata, mual, muntah, kejang-kejang, dan ditinggal waktu lagi sayang-sayangnya setelah membaca blog ini.

    Tentang Aq

    HAYKAL SATRIA PANJERAINO
    Seorang mahasiswa tingkat akhir yang senang menulis hal yang tidak ada gunanya dan sedang memulai bisnis baju olahraga. Sering random, pelupa, dan suka marah kalo lagi laper.

    Yang Udah Nyasar

    Semua Tulisan

    • ▼  2018 (5)
      • ▼  Desember (1)
        • Memento Mori
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
    • ►  2017 (11)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2016 (44)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (30)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (68)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (5)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (27)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (8)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
    • ►  2014 (36)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (8)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2013 (18)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (6)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2012 (46)
      • ►  Desember (1)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (5)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2011 (7)
      • ►  November (2)
      • ►  September (5)

    Kategori

    Ada Ilmunya Bodoh Cerpen Diriqu Fiksi Gak Jelas Galau Iseng Jejersian Keperluan Lomba Kisah Nyata Lagi Bener Lagu Galau Masa Kuliah Masa SMA Masa SMP Pembodohan Random Review Buku Sehari-Hari Sepak Bola Tantangan Menulis Random - Februari Tantangan Menulis Random - Juni Temen-Temen Terlalu Jujur Tulisan Pendek

    Paling Rame

    • Galauan Lagu : Adhitya Sofyan - Blue Sky Collapse
    • Debat Pramuka, Dan Lain-Lain
    • Galauan Lagu : HiVi - Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi
    • Secuil Kisah Trilogi di SMA Taruna Bakti (Pendaftaran)
    • Cowok Sunda-Cewek Jawa
    • Karena Kita Adalah Sahabat Bagi Diri Sendiri
    • Akhir Yang Indah di Bulan Juni
    • Secuil Kisah Trilogi di SMA Taruna Bakti (Pengumuman)
    • Galauan Lagu Secondhand Serenade - Awake
    • Hari Pertama Pake Kacamata

    Sosmed Aq

    • Google Plus
    • LinkedIn
    • Facebook
    • Twitter
    • Ask FM
    • Instagram
    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top