Haykal Satria Panjeraino. Diberdayakan oleh Blogger.

Hai Haykal !

    • Beranda
    • Tentang Aq
    • Kuliah
    • Bisnis
    • Keseharian
    • Romansa
    • Serius

    Hardojo terbangun pagi itu dengan semangat yang sama seperti biasanya, pagi itu ia akan mengikuti kelas paduan suara untuk bersama 30 anak usia 10-16 tahun lainnya. Mereka semua disiapkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Belanda dan beberapa lagu lain pada acara perayaan Ulang Tahun Kerajaan Nederland yang ke-128 pada tanggal 17 November 1941 kelak. Acara itu sendiri akan diadakan di Alun-Alun Kota Solo, yang biasanya akan berlangsung meriah dengan kehadiran semua lapisan masyarakat.

    Ini adalah kali pertama Hardojo menjadi tim paduan suara untuk acara perayaan Ulang Tahun Kerajaan Nederland. Suaranya yang bagus dan Ayahnya yang memiliki jabatan di Sekolah Van Deventer Solo membuat jalan Hardojo semakin mudah untuk menjadi tim paduan suara tahun ini. Walau ia sudah hampir 17 tahun dan menjadi salah satu yang paling tua, ia tidak merasa malu, ia malah menjadi pemimpin bagi teman-teman pribuminya yang lain, yang rata-rata lebih muda darinya.

    Tim paduan suara untuk perayaan ulang tahun Kerajaan Nederland memang biasanya terbagi dua; paduan suara orang-orang Indonesia asli, yang biasanya mereka adalah anak dari Ayah yang bekerja untuk pemerintahan Hindia Belanda atau merupakan keturunan Ningrat. Dan yang kedua adalah paduan suara anak Tuan Nederland Besar, atau setidaknya Staatsblad-Nederlander. Walau latihan mereka terpisah, tapi saat perayaan nanti mereka tetap akan menyanyikan lagu yang sama, "Wilhelmus" sebagai lagu kebangsaan Belanda yang baru diresmikan pada 1932, atau lagu "wien Nederlands Bloed".

    Hardojo sendiri bisa mengikuti tim ini setelah ia memaksakan pada Ayahnya agar bisa ikut tim itu, mumpung usianya hanya bisa tahun ini, katanya. Ayahnya yang punya jabatan di Sekolah Van Deventer itu pun mengusulkan pada panitia paduan suara agar mengikutsertakan anaknya. Awalnya panitia yang bernama Ngadiman itu ragu akan kemampuan Hardojo. Tapi setelah ditest ala ala Indonesia Idol versi 1941, ternyata Ngadiman dan kawan-kawan juri menganggap Hardojo punya bakat dan berhak ikut dalam tim paduan suara tahun ini.

    Hardojo pun senang bukan main, walau sebenarnya ia punya alasan lain ikut tim ini. Dia ingin terus bersama Helena van Leurman, seorang Belanda tulen yang sebaya dengannya dan Ayahnya merupakan pejabat pemerintahan yang ditempatkan di Solo. Hardojo sebenarnya sudah kenal dengan Helena, saat suatu waktu keluarga Hardojo diundang makan malam di rumah keluarga van Leurman sebagai apresiasi atas kerja baik yang dilakukan oleh Ayah Hardojo. Keluarga van Leurman adalah Belanda yang baik, mereka bercerita saat jamuan makan malam tersebut tanpa ada rasa malu sedang makan dengan warga pribumi yang saat makan sendoknya tak tersentuh dan mengira bahwa air kobokan cuci tangan adalah perasan lemon.

    Sebagai orang yang sebaya malam itu, tentu mereka pun mengobrol saat jamuan makan malam itu. Mereka ngobrol soal banyak hal. Kenapa orang Belanda rambutnya pirang, gimana caranya main gasing atau kenapa orang pribumi suka nyolek sambel langsung pake jari tangan. Mereka berbagi bersama, canda tawa bersama, makan bersama. Saat itupun dia tau bahwa Helenalah tulang rusuknya yang selama ini hilang di dasar Bengawan Solo.

    Tapi sayang, Hardojo tidak tau bahwa tim paduan suara latihannya dipisah antara primbumi dan Nederland asli.

    Ya seenggaknya bisa terus ngeliat Helena kan, pikir Hardojo. Karena lokasi latihan pribumi dan Nederland sebenarnya tidak terlalu jauh, yang membedakan hanya tempat latihan paduan suara orang Nederland ada kipas anginnya dan lampunya pakai yang 15 watt, sementara orang pribumi memakai jendela sebagai alat pendingin dan lampu yang dipakai hanya 10 watt. Sebenarnya lampu tidak terlalu penting karena mereka biasanya selesai latihan jam 3 sore.

    Ini sudah masuk bulan ketiga Hardojo dkk mengikuti latihan paduan suara. Semakin lama juga, ia semakin dekat dengan Helena, karena setiap hari Hardojo selalu mengajak Helena pulang bareng, melupakan fakta bahwa jarak rumah Helena ke rumah Hardojo sama dengan jarak BIP ke Gedung Sate di Bandung sini. Tapi Hardojo selalu punya alasan jantan seperti "Oh gapapa kok, ini aku sekalian mau main galah ke rumahnya Sumitro yang deket sini".

    Padahal Sumitro adalah tetangganya Hardojo.

    Namanya juga cinta.

    Tapi ajakan itu tidak selalu diterima oleh Helena. Apalagi jika Stefan, putra Nederland lain yang juga ikut tim paduan suara, mengajak Helena pulang bareng (Stefan baru tetangganya Helena). Ia suka merasa pedih hatinya jika melihat Stefan jalan bareng Helena, apalagi jika Helena tertawa-tertawa riang jika sedang bersama Stefan. Hardojo kurang suka jika ada orang lain yang bisa melakukan apa yang ia bisa lakukan pada Helena.

    Tapi, ia tetap sabar. Karena Stefan tampaknya tidak serius menjalin hubungan dengan Helena. Stefan lebih sering pulang naik kereta kuda bareng Natasha, teman paduan suara yang lain.

    Apa yang Hardojo suka dari Helena selain kecantikannya adalah karena Helena pintar dan ramah, bahkan kepada bebek sekalipun. Helena yang orang Belanda itu sudah lancar berbahasa Indonesia, walau bahasa Jawanya belum terlalu bagus. Ini menjadi keuntungan sendiri buat Hardojo yang kesulitan belajar bahasa, bahkan lagu Wilhelmus saja baru ia hapal setelah hanya bisa tidur 3 jam setiap harinya selama seminggu. Selain itu, lesung pipit yang Helena miliki membuat Hardojo semakin rela memberikan hatinya untuk Helena yang bagai bidadari.

    Hari yang ditunggu pun tiba. 17 November 1941. Alun-Alun Solo. Perayaan Ulang Tahun Kerajaan Nederland yang ke-128. Ia sudah bersiap sejak pukul 8, acara sendiri dimulai pukul 9, dan paduan suara akan bernyanyi lagu kebangsaan 15 menit kemudian.

    "Wilhelmus van Nassouwe
    ben ik van Duitsen bloed
    den vaderland getrouwe
    blijk ik tot in den dood
    Een Prinse van Oranje
    ben ik vrij onverveerd
    den Koning van Hispanje
    heb ik altijd geëerd"

    Hardojo menyanyikannya dengan lancar, walau ia sedikit tidak ikhlas di bagian "ben ik van Duitsen bloed" yang punya arti saya yang berdarah Belanda. Yah, tapi bisa apa dia. Yang penting bisa ngobrol sama Helena sampai mampus.

    Setelah acara selesai, ia mendatangi Helena yang sedang duduk sendirian. Jarang-jarang ia melihat Helena duduk sendirian seperti ikan kehilangan kawan atau seperti pujangga kehilangan pena. Hardojo memulai percakapan, rencananya saat itu ia akan menyatakan perasaan pada Helena.

    "Helen"

    "Oi Har apa kabar"

    "Baik kok. Eh tumben duduk-duduk sendiri aja kayak orang jomblo, pulang bareng yuk?"

    "Aduh maaf Har tapi Ayah aku bentar lagi jemput nih, dia pake kereta kuda. Lagi ngobrol sama temen-temennya dia kayaknya"

    "Yaahh yowis lah, aku balik sendiri aja rapopo wis biyasa"

    "Halah jangan sosoan sedih gitu lah, dicakar anak kucing aja kamu nangis kan. Omong-omong suaramu apik loh tadi"

    "Hehe makasih Hel, rupamu juga apik kok. Eh, maksudku suaramu juga apik kok"

    "Ah bisa aja kamu Har hahaha"

    Hati Hardojo sudah meleleh duluan melihat Helena tertawa dengan wajah merah merona.

    "Helena"

    "Apa Har"

    "Aku kayaknya harus dateng ke Mama kamu"

    "Loh tumben, mau ngapain to Har"

    "Aku mau bilang terima kasih"

    "Hah, terima kasih apa deh"

    "Terima kasih karena telah melahirkan wanita secantik kamu"

    Dan seketika terdengar sayup-sayup suara "Ciecieee" dari kejauhan. Hardojo tidak tau pasti itu siapa tapi sepertinya itu Supangat dan beberapa teman lain. Bocah gendheng. Hardojo pun bersyukur hanya ada suara ciecie, bukan lagu romantis India, karena ia tidak bisa berjoget di pepohonan.

    "Haha apasih Har mati aja kamu" kata Helena dengan nada bercanda.

    "Eh Helena tapi aku mau ngomong sama kamu"

    "Apa lagi"

    "Aku sebenernya suka sama kamu"

    Suara ciecie semakin menjadi, bukan sayup-sayup lagi tapi sudah seperti di pensi anak sekolahan.

    Helena langsung menundukkan wajah, ekspresinya tidak tertebak. Hardojo seketika bingung.

    "Kenapa Helena? Aku salah ya"

    "Nggak kok Har. Tapi, aduh entah yah gimana ngomongnya.

    "Apa Hel, jujur aja, aku kuwat kok"

    "Aku juga sebenernya nyaman sama kamu. Kamu baik, jantan, sporty, takwa pula. Tapi sayang aku udah disuruh pulang ke Belanda beberapa hari ke depan. Besok aku berangkat ke Pelabuhan Surabaya, mulai perjalanan ke Amsterdam. Emang sedih sih, tapi, ya namanya juga idup, maaf ya Har. Makasih juga ucapannya" kata Helena sambil terisak.

    "Huhu, sedih ya. Tapi ya, gapapa deh, aku cuman bisa mengucapkan selamat tinggal, semoga sukses di Belanda sana. Oh iya, aku mau foto bareng dong sama kamu, biar bisa dimasukkin Instagram pake caption sedih"

    "Sekarang kan belum ada HP haduuuhh Hardojo iki cah gendheng sama kayak Supangat" kata Helena dengan sedikit tertawa.

    "Oh iya kita kan hidup tahun 1941 ya hahaha yang buat Instagram juga belom lahir kayaknya"

    "Iya hahaha dasar cowok dungu"

    Seperti kisah sinetron memang, tapi saat itu juga kereta kuda Ayah Helena datang. Helena mengucapkan selamat tinggal pada Hardojo, Ayah Helena juga dadah-dadah sambil tersenyum lucu pada Hardojo, yang tidak tau bahwa hatinya sedang remuk. Tapi Hardojo tetap senyum dan mengucapkan selamat tinggal pada Helena dan Ayahnya. Walau hatinya sedang remuk, lebih remuk daripada melihat Helena pulang bareng Stefan dan lebih remuk daripada melihat kucingnya hamil oleh kucing kampung sebelah.

    Tapi ia ingat kata Ayahnya saat salah satu kucing kesayangannya mati; untuk melupakan, kita harus mengikhlaskan.

    Yah, namanya juga hidup.

    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Entah udah berapa puluh buku self-improvements yang bilang bahwa bahagia itu berasal dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari faktor luar, kayak harta, tahta, wanita atau unta. Dan kalo diklasifikasikan lebih dalam lagi, orang-orang bahagia ini ada 2 tipe :
    1. Bahagia karena bersyukur dengan apa yang dimiliki
    2. Orang-orang pejuang hestek dengan caption / twit "Abis bangunin saur polisi tidur nih" atau "Liat gebetan ketawa gara-gara lawakan kita" tak lupa hestek #BahagiaItuSederhana
    Buat gue sendiri, bahagia itu, apa ya? Berhubung gue udah jomblo kelamaan, jadi pacaran gak termasuk kriteria bahagia gue. Jersey? Gak terlalu sih, karena gue kadang kala bosen mainan jersey entah kenapa, walau gue cinta mati sama dunia perkainan bola. Mungkin, gue termasuk orang tipe 2, yang bahagia itu sederhana.
    Gue bisa ketawa-ketawa sendiri liat tingkah-tingkah orang di luar sana, terutama yang lagi bahagia. Kayak orang pacaran di motor sambil haha-hihi dengan lucunya, yang entah kenapa gue seneng aja liatnya, walau kenyataannya gue duduk sendirian di motor dan siap mencanangkan penghilangan jok belakang motor karena tidak berfungsi buat gue :( Selain itu, gue juga suka ketawa-ketawa aja kalo liat bayi di luar sana, apalagi kalo udah nengok ke gue. Lucu :( Gue jadi inget 2 hari lalu, waktu itu gue lagi kesel gatau kenapa da lagi puasa huhu, tapi pas lagi nunggu lampu merah di perempatan Palasari-BKR, sebelah gue adalah motor keluarga kecil dengan anak bayinya yang ngeliatin gue mulu. Gue senyum-senyum aja tuh diliatin. Walau pas udah misah gue judes lagi ke pengendara lain.
    Salting sama dedek dedek, aku memang pria lemah.
    Dan, apa ya, temen-temen kali. Gue yang keseringan kemana-mana sendiri dan sering merasa dijauhi sama temen-temen pun, masih seneng kalo liat temen gue bahagia. Ya, gak semua sih, beberapa orang doang yang deket sama gue, sisanya gue gak terlalu peduli walau mereka dikasih Pulau Jawa sekalipun.
    Ngabisin waktu bareng temen-temen juga bisa membuat gue seenggaknya gak ngerasa sendirian dan harus ngobrol sama kura-kura lagi. Walaupun ngobrolnya gak jelas, main kemananya gak jelas, mukanya pun gak jelas kayak belatung nangka, tapi ya setidaknya gue gak sendiri.
    Kayak yang gue habiskan bareng Lita Ozi kemaren, jalan-jalan pertama setelah 29 April, setelah semua bebas dari ujian masuk PTN. Walau cuman jalan-jalan ke sekolah dan ke PVJ pun cuma liat-liat, tapi ya, idk, lebih baik daripada gue cuman diem di rumah meratapi laptop gue yang lagi di servis atau tidur dengan posisi headstand. Ya yang diobrolin juga gak jelas, stiker "Korban Rayuan Janda" lah, Lita pake jilbab tapi masih liar lah, sampe rencana Lita pacaran sama Papdine besok harinya (tadi sore). Begitulah.
    Atau yang kayak terjadi hari ini, waktu gue ngerayain ultahnya Najma. Gue sebelum ngerayain sempet ngasih kado ultah buat Nadyra yang ulang tahun 3 Juni kemaren, dan kadonya baru sempet dikasih sekarang. Ekspresi Dyra waktu buka kado dan liat bahwa isinya ada kaset Adhitia Sofyan yang ada tanda tangan dan pesan khususnya membuat gue juga merasa bahwa gue adalah Nadyra dan gue lagi dikasih kado sama temen gue.
    Halah naon.
    Ya wajar jarang ngasih kado, beli roti bakar lima ribuan aja mikir :( Gue juga beliin dia kado karena waktu gue ultah dia beliin gue kado, dan si Dyra juga minta pengen dibeliin apa pas ultahnya. Heu.
    Setelah baca-baca di internet, ternyata tanggal 8 Juni kemaren adalah Hari Persahabatan Internasional.
    Jadi, selamat bahagia !!
    Wassalam.
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !

    Ternyata, ia belum mati.

    Gue gak paham lagi, padahal gue udah ngorbanin Soemini sama Gilang supaya lebih gampang ngabisin Dara. Tapi ya gimana? Dia masih aja jago bertahan, gue pun mulai curiga kalo dia kayaknya pernah ikut coaching clinic sama Paolo Maldini waktu dia ikut pertukaran pelajar ke Italia sana saat kelas 2 SMA. Tandatangan Kang Maldi yang pernah gue liat di salah satu kaos Dagadunya ngebuat gue makin yakin kalo dia pernah ikut pelatihan bertahan sama salah satu bek terbaik di dunia.

    Ah iya, omong-omong, kasihan Soemini sama Gilang. Padahal mereka kan lagi lucu-lucunya pacaran, manggilnya udah Papski Mamski pula. Eh idupnya malah harus berakhir dengan gue sikat pake keris. Sori ya teman-teman, tapi gue yakin di surga sana bioskopnya lebih bersih kok, dan seenggaknya tangan kalian saling menggenggam kan waktu mati, lumayan lah daripada mati tapi tidak bersama. Ea.

    Gue sampe rela ngabisin setengah uang jajan gue lho buat ikut les menjahit di Kursus Jahit Restu Ibunda yang ada di deket rumah supaya hasil jahitan gue ke tangan Soemini dan Gilang bisa rapih dan menawan. Ya lumayan lah walau agak mencong dikit di awal, tapi gue bersyukur dapet Bu Naru sebagai mentor menjahit gue, sabar banget dia walau kelakuan gue kayak Batman lagi diare, ngomel mulu.

    Dan Dara masih belum mati juga? Oh Tuhan, kalo aja gue pembunuh bayaran, gue pasti pantes nerima hukuman untuk nyebrang jalan raya beli lontong isi unek-unek satu jam sebelum buka puasa.

    Pengen nangis aja rasanya sampe jokes "Hujannya udah reda tapi pipinya masih basah" musnah dari dunia.

    Setelah ini, setelah semua yang gue lakukan gak kunjung ngebuat si Dara mampus, gue gak tau apa lagi yang harus dilakukan buat nyingkirin dia dari tubuh ini. Ya, memang secara de jure, gue adalah penumpang di tubuh Dara, tapi secara de facto ini tubuh gue juga, yang layak gue kuasai kapan pun dimana pun.

    Semua hal yang gue lakukan ke Dara malah ngebuat gue jadi suka sakit sendiri. Mulai dari sakit badan (kalo kata si Pendi, namanya salah uwrat, maklum dia dari Sastra Inggris jadi spelling nya suka pengen bikin gue nampolin dia pake limbah pabrik peluit) sampe sakit hati karena terbakar rasa cemburu waktu ngeliat begitu mesranya Dara sama Kirana.

    HHHHHHHH.

    Aduh entah yah, gue udah keburu kesel sama si Dara. Menurut gue, dia cuman wanita gila yang kecanduan meriksa gigi hewan di kampusnya (ya, dia mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Hewan di salah satu universitas ternama di Bandung) dan itu malah ngebuat dia jadi suka sama Kirana, wanita lain yang ditemuinya 2 tahun lalu di Jalan Braga.

    Walau gue baru muncul 5 bulan lalu di tubuh Dara, tapi entah kenapa pesona Kirana juga udah menyentuh hati gue yang serapuh tumbuhan Putri Malu ini. Gue tau hal ini karena sering melihat Dara pulang bareng Kirana setelah ngampus (Kirana juga satu kampus dengan Dara, tapi dia mahasiswi jurnalistik di kampus itu). Meskipun terlihat janggal, tapi sebenernya gue bisa ikut melihat dan mendengr apa yang Dara lihat saat si Dara lagi dominan di tubuh ini. Hal istimewa ini gak bisa Dara lakukan waktu gue lagi dominan di tubuhnya.

    Hahaha cewek bodoh, nanem wortel aja sana.

    Gue akui bahwa Dara pantes mendapatkan hati Kirana. Kata teman-teman Dara (yang gue yakin mereka semua udah disogok nasi uduk Mang Engkush sebelum gue ada ), Dara adalah cewek idaman semua orang. Cantik, putih, baik, pinter, tabungannya banyak, dan senang mengerjakan tugas teman-temannya (ini pinter apa dibodoin sih). Tapi sayang, Dara ini lesbian, cukup bodoh juga saat gue lihat banyak cowok tampan dan dinamis yang nyoba deketin dia akhir-akhir ini, tapi malah dia tolak dengan alasan bodoh kayak "Maaf aku mau fokus UN dulu" tanpa sadar bahwa dia kan udah kuliah.

    Sementara gue, Darius, hanyalah cowok menyedihkan yang terobsesi sama Kirana tapi sayangnya harus berbagi tubuh sama Dara yang sialan itu. Ya, Dara cantik menurut gue, tapi tetep aja gue gak bisa ngalihin pandangan dari Kirana. Kalau kata istilah anak muda penggemar akun "Relationship Goals" mah; Hati gak bisa bohong. Kirana sendiri, mahasiswi jurnalistik yang kemampuan ngomongnya bisa ngebuat gue gak sadar bahwa mulut udah ngeluarin busa sejak 10 menit yang lalu itu saking jagonya, punya aura tersendiri yang ngebuat 2 jiwa dalam satu tubuh ini sama-sama terpana. Rambutnya yang pendek dan lucu, matanya yang indah, bibirnya yang menawan hati dan hidungnya yang runcing-runcing menggemaskan membuat dia pantas masuk "Paling Loveable" di award kecil-kecilan anak SMA waktu lagi prom night.

    Tapi sayang, si Kirana ini juga yang jadi salah satu faktor kenapa gue ada dan kenapa gue sampe pengen ngerebut Kirana dari Dara. Jadi, sekitar 6 bulan lalu, si Dara yang terobsesi banget sama belajar terhantam stress yang mendalam menjelang UAS, kayaknya itu emang kebiasaan dia buat stress sebelum ujian. Dan yang makin ngebuat dia stress adalah waktu dia ngedenger gosip Kirana pacaran sama Rizal, temen sefakultasnya. Dara, yang waktu itu udah hampir 2 tahun menjalin hubungan sama Kirana, makin menjadi stressnya. Lalu entah bagaimana, gue muncul ke tubuh Dara.

    Awalnya si Dara ini gak tau ada gue di tubuhnya, gak tau bahwa Darius The Great ini muncul ke dunia. Tapi lama-lama dia sadar waktu sering ngerasa lupa sama kejadian hari itu (ya itu waktu gue nguasain tubuhnya) dan temennya pun ngasih testimoni bahwa dia sedikit berubah semenjak tau Kirana pacaran sama Rizal.

    Ah iya, Kirana sendiri bisa pacaran sama Rizal karena katanya dia gak sengaja ikut kajian dakwah soal haramnya LGBT di Masjid dekat rumahnya. Tapi ujung-ujungnya Kirana ini putus sama Rizal setelah Rizal ketauan masih manggil Ayah Bunda sama mantannya, Diana. Dia pun mutusin Rizal lalu balik lagi ke pelukan Dara dengan hati penuh sesal, sayangnya saat itu gue melihat Kirana dan langsung bergumam "Ini yang mama cari".

    Apa gue harus ikut nyingkirin Kirana ya supaya bisa nyingkirin Dara juga?

    Kemungkinan itu masih ada dalam pikiran gue, ngebunuh Kirana supaya Dara juga lebih gampang dibunuh. Tapi gue gak tau. Hati gue masih gak sanggup buat liat Kirana pergi. Tapi, setelah semua yang gue lakukan gak kunjung ngebuat Dara mampus, kayaknya gue harus mulai melakukan hal tersebut. Entah kapan gue sanggup melakukan hal tersebut, besok mungkin? Entahlah, aku mau bobo, udah malem, kata Mama Dara gak baik tidur diatas jam 11.

    Lu kate gue anak SD apa.

    ******************

    Ternyata kemaren pagi si Dara berhasil nguasain tubuh ini, kuliah seperti biasa dan jalan-jalan sama Kirana ke BIP, nonton film romantis yang gue gak ngerti jalan ceritanya lalu buka puasa di restoran dekat sana. Dan sekarang, giliran gue muncul, setelah Dara ketiduran di mobil Kirana tadi abis dari BIP. Ini lagi perjalanan ke rumah Dara, Jalan Shakuntala No. 72 Bandung. Kirana mau nginep katanya, ini kan hari Jumat.

    Gue beruntung dapet bagian tubuh Dara pas Kirana lagi sering main ke rumah akhir-akhir ini. Karena dia sering nanya "Eh, Soemini sama Laras mana?" dan gue jawab aja "Ohh, Soemini lagi balik ke Semarang, Laras lagi main ke Bromo sama temen-temen kampusnya". Yang Soemini, tentu gue karang dengan aduhainya. Yang Laras sendiri itu bener, dia lagi main ke Bromo sampe Minggu depan. Dara sendiri percaya aja waktu gue taro kertas "Dar aku ke Semarang dulu ya sampe Rabu depan, titip rumah" dengan tulisan gue yang sedap itu. Dan gue beruntung juga dia gak pernah minat buat jalan ke gudang, tempat gue nyimpen Soemini sama Gilang yang tangannya udah gue jait, dan udah gue lulurin balsem supaya awet sedikit mah.

    Ya setidaknya berusaha.

    Sekarang, Kirana lagi duduk sama gue, nonton tayangan meerkat yang kayaknya lucu di Animal Planet. Gue sendiri udah nyiapin rencana ngebunuh Kirana malem ini, semua barang udah gue siapin, cuman bantal sama keris doang. Sederhana sih, tapi ya semoga bisa.

    Rencana gue semakin mantep kala Kirana pergi ke dapur bentar buat nyeduh jasjus kesukaannya. Saat itulah, gue mulai ngikutin dia dari belakang perlahan-lahan...

    Gue yakin dia nyadar gue ikutin dari belakang tapi gak nengok karena ngira gue bakal melakukan sesuatu yang romantis kayak meluk dari belakang.

    Padahal mah emang pengen tapi da kumaha deui :(

    Gue tutupin muka dia pake bantal sambil ngejatuhin dia secara pelan-pelan. Tentu dia ngeronta-ronta, meminta lepas, menyerah. Dengan hati berat, gue tahan bantal itu di mukanya selama 5 menit, menikmati saat-saat terakhir bersama Kirana sambil nunggu dia mulai lemah.

    Setelah 5 menit itu, Kirana mulai lemah dan udah keliatan pasrah, saat itu juga gue mulai ngebuka keris yang udah gue bawa dari tadi dan langsung saja menusukkan keris itu ke bagian mata Kirana. Kirana terlihat sedikit kaget, tapi tidak teriak, sepertinya dia sudah pindah alam. Dan kali ini gue sedikit nangis, kangen Kirana, walau hati gue gak menyesal sedikit pun, malah ada perasaan puas yang tak bisa dijelaskan karena bisa membunuh orang yang Dara agungkan.

    Ciye kangen.

    Gue tidak tega membuka bantal itu dari wajah Kirana, tidak tega karena itu adalah wanita yang gue cintai selama ini. Bantal itu sudah bersimbah darah di satu sisi, tepatnya di bagian mata kanan Kirana (hei, gue sungguh hebat membidik matanya Kirana, gak meleset loh). Tapi, demi membunuh Dara yang mengesalkan itu, gue rela melakukan ini.

    Dan kali ini adalah giliran Dara. Gue gak tau harus mulai dari mana. Mungkin dari leher bagian kiri, karena gue rasa Dara mulai bisa nguasain tubuh ini waktu bagian leher kiri gue sakit kayak abis disentil jakunnya (padahal Dara kan gak punya jakun yah), jadi gue berasumsi Dara pasti berada disana, tidak menyadari bahwa Kirana sudah mati dan dia juga akan menyusul Kirana beberapa saat lagi. Sementara gue bisa hidup bebas tanpa harus berbagi jiwa lagi dengan Dara, walau tanpa Kirana, karena gue yakin jodoh mah gak kemana, dan itu lah yang membuat gue ikhlas ngehabisin Kirana.

    Karena agar dapat melupakan satu orang, yang kita lakukan hanya perlu mengikhlaskannya.

    Gue pergi ke dapur dulu, minum segelas air sebelum memulai penghabisan Dara ini, sambil mulai membayangkan bagaimana akan bahagianya gue saat Dara sudah mati. Bagaimana bahagianya gue bisa makan martabak depan rumah tanpa harus nunggu giliran menguasai tubuh ini, bahagianya gue waktu bisa kenalan sama banyak cewek buat ngelupain Kirana, bahagianya gue bisa ikutan main futsal sama temen cowok di kampus tanpa harus malu bahwa gue main di tubuh wanita, dan segala macam kebahagiaan lain yang terlintas begitu saja di pikiran gue.

    Dan, kalimat "Bahagia itu sederhana" akan dimulai beberapa menit lagi. Saat Dara pergi dari tubuh ini.

    Gue pergi lagi ke jasad Kirana, karena gue bakal ngebunuh si Dara di depan jasad Kirana, supaya mereka bisa saling menyentuh walau sudah mati. Gue benci-benci sama Dara juga masih peduli sama dia, walaupun jujur cemburu juga gue sama Dara, mati aja bisa pelukan sama pacarnya.

    Gue bersiap dengan keris itu, gue mulai meraba-raba bagian kiri leher ini, melihat bagian mana yang akan gue tusukkan keris. Dan, gue menemukan spot yang tepat. Gue pun bersiap menancapkan keris ini ke leher Dara.

    Dan...

    Yang gue lihat hanya gelap, gelap, gelap, dan darah yang bercucuran kemana-mana saat gue menusukkan keris tersebut ke leher Dara.

    Leher Dara yang gue tusuk, tapi kok gue juga ikutan sakit ya?

    Ada yang gak beres disini.

    Mak gelap mak. Atau PLN lagi ngadain pemadaman bergilir di komplek rumah gue? Kayaknya nggak deh.

    Rasa sakit itu makin menjadi, pandangan gue makin gelap dan makin kabur dan enta....

    ************

    Ceritanya si Darius udah keburu mati waktu mau ngomong "entahlah". Cowok bodoh.

    Wassalam.

    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !

    Hari kedua puasa di Bulan Ramadhan. Sejauh ini, puasa gue lancar aja, gak ada godaan makan minum karena semenjak kelas 11 gue udah terbiasa gak makan dalam waktu yang lama sampe-sampe gue dibilang terlalu kurus. Tapi entah kenapa, aura puasa kali ini kurang terasa buat gue, serasa sama aja kayak hari biasa (ya emang sama sih), entah karena baru awal-awal atau karena kadar iman gue sedikit menurun (semoga nggak lah). Atau bisa juga gue nya aja yang soide, padahal mah nanti pas masuk kuliah gue bilang ke temen-temen gue "Ih kenapa ya suasananya kayak masih puasa padahal udah lama Lebaran" dan masih menundukkan mata ke teman-teman mahasiswi atau malah ikut menundukkan pandangan ke billboard Aqua yang gambarnya Dian Sastro.

    Atau bisa juga salah satu alasan kenapa suasana Ramadhan kurang terasa adalah karena Dude Herlino udah gak main sinetron di bulan puasa ini :(

    *padahal gak pernah nonton TV* *dikecup siamang*

    Selain Dude Herlino yang udah gak terlihat di sinetron bulan puasa, satu hal lagi yang biasanya rame di bulan puasa tapi kali ini meredup adalah; bukan, bukan jokes "Berbukalah dengan yang mau karena yang manis belum tentu mau", jokes itu masih berlaku. Tapi adalah kehadiran netizen-netizen gila hormat yang sering koar-koar supaya restoran tutup selama Bulan Ramadhan.

    Gue cukup senang dengan berkurangnya populasi mas-mas dan mba-mba yang tiap tahunnya selalu nyinyirin restoran yang buka selama bulan Ramadhan dengan alasan "Gue lagi puasa hormatin dong".

    Sampai kapan pun, gue gak akan pernah setuju sama gagasan "Gue lagi puasa hormatin gue dong". Karena, ya, entah yah, gue aja yang sebenernya gak sholeh-sholeh amat pun masih tabah waktu diajak Nadyra sama Dafa ke Tokyo Connection di Jalan Progo, ngeliatin mereka berdua makan sushi seperempat ratus ribuan sambil ngerjain tugas novel dengan riang gembira, padahal waktu itu gue lagi puasa Senin-Kamis dan ada janji ngambil KTP di kantor kecamatan.

    Masa beliau-beliau yang saya hormati, yang katanya ikut organisasi Islam, yang setiap hari ikut pengajian, yang kalo sedekah udah gak mikir nominal, liat kucing makan Whiskas aja langsung lemah iman dan mendakwa kucing tersebut dengan antek-antek Wahyudi?

    Lu lagi ibadah apa lagi dipopokin, manja amat.

    Setau gue, gak ada satu pun ibadah dalam Islam yang ngebuat umatnya jadi manja dan gila hormat. Shalat, puasa, sedekah, berhaji, sampe perang dijalan Allah sekalipun gak akan ngebuat kita manja dan gila hormat kalo diawali dengan niat yang bener dan hanya berharap ridho Allah. Kalo kita masih puasa dengan berharap orang lain menghormati kita, main barbie aja gih sana.

    Karena dengan berharap orang lain menghormati kita, itu hampir sama aja dengan mengakui bahwa "Gue lemah nih gak kuat puasa kasihani dong bro huhu". Itu sama aja kayak kita bilang bahwa kelemahan kita adalah gak bisa bangun pagi waktu lagi wawancara pekerjaan yang jam kerjanya selalu mulai jam 6 pagi.

    Ini kasusnya hampir sama kayak himbauan supaya cewek gak pake baju aduhai biar gak diperkosa. Daripada ngehimbau wanita biar berpakaian serba tertutup, mendingan ngehimbau pria supaya berpikiran jantan dan tidak menyakiti wanita sedari dini.

    Jadi gue sebenernya setuju-setuju aja dengan restoran yang buka selama Ramadhan. Mungkin yang perlu dikendalikan adalah pikiran dan hawa nafsu kita kalo lihat makanan, karena gue yakin kalo hawa nafsu kita selamanya liar, nanti lama-lama restoran seluruh Indonesia bakalan tutup dengan alasan wajib menghormati orang yang sedang puasa Senin-Kamis.

    Ya tadi adalah sesi curhatan remaja jomblo pengoleksi jam besuk.

    Gue jadi inget video nya Google Indonesia yang di post di Youtube beberapa hari yang lalu, bercerita soal temen Non-Muslim yang ikut puasa di hari pertama Ramadhan karena gak enak sama temennya yang puasa sendirian. Gue hampir nangis pas nonton video ini, dan video ini ngebuat puluhan iklan Petronas yang udah gue tonton jadi gak ada apa-apanya.

    https://youtu.be/5nXT_jvYl0s

    Tapi bukan berarti video itu mengajarkan bahwa non-Muslim harus menghormati orang yang puasa dengan ikut puasa, karena ya lo liat aja deh videonya bagus kok.

    Gue juga jadi inget sama ceritanya Mbak Elisabeth Dyah *peserta 30 hari nulis* yang waktu kecil sering ikut puasa padahal keluarga Mbak Dyah adalah satu-satunya yang Katolik di kampungnya. Gue seneng aja baca kisah Mbak Dyah itu, yang ngejelasin bahwa keluarga mereka juga ikut nyemarakkin Ramadhan termasuk pas Lebaran. Ini terjadi tanpa paksaan, di tulisan Mbak Dyah gue gak menemukan bahwa keluarga Mbak Dyah ikut ngeramein Ramadhan karena dipaksa sama Lurah setempat atau karena ada himbauan dari FPI, semua dilakukan dengan hati ikhlas dan karena ini Indonesia.

    Anjay.

    Tapi emang bener semua amalan tergantung niatnya. Kalo niatnya pengen dihormatin sih, itu urusan kita sama Allah. Semoga kita bisa jadi orang-orang yang punya hati bersih dan diberi petunjuk selalu sama Allah SWT. Aamiin.

    Semoga makin lama populasi orang yang gila hormat karena ibadah berkurang dan Indonesia jadi negara yang lebih enak diliat sosial medianya. Aamiin.

    Kesambet apa gue nulis ginian.

    Gue kadang bersyukur bisa nulis yang serius kayak gini, walaupun masih tetep gak jelas dan susah diambil poinnya apa. Gue nulis ginian sama bersyukurnya gue bahwa waktu sahur, otak gue masih sehat dan gak gesrek, kalo misalkan otak gue gesrek kan pas saur udah nyendokin nasi siap-siap masukin mulut eh taunya malah masukin pesantren.

    Gak ngerti ya, yaudah deh, berarti emang gesrek beneran :(

    Wassalam.

    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !

    Menurut akte kelahiran, gue lahir 12 Februari 1999, dan sekarang 6 Juni yang merupakan ulang tahun Bapak Soekarno yang ke-115. Selamat ulang tahun, Pak !!

    Iya gue gak tau apa hubungannya tapi keun lah da budak.

    Tadi subuh, abis gue saur dan lagi nunggu adzan, gue nonton pertandingan Copa America Centenario antara Venezuela vs Jamaika yang berakhir 1-0 buat Venezuela. Selain fans Latin cantik yang sering terekam kamera (lalu gue kemudian menundukkan pandangan sambil berkata "Kang kameramannya belum liat berita hilal ini") dan jersey Timnas Jamaika yang tjakeps, gak banyak hal menarik yang bisa ditonton di pertandingan itu. Pertandingan yang digelar di Soldier Field Stadium, Chicago itu sendiri gue liat gak terlalu banyak penontonnya, padahal kapasitas Soldier Field Stadium itu gue baca di Wikipedia bisa sampe 61.500 orang. Gue curiga penonton yang dateng tadi adalah penonton impor dari Dah*syat yang menunggu bayaran nasi kotak pas pertandingan selesai, atau malah mereka adalah penonton yang beli tiket buat nonton kampanye Calon Bupati Chicago yang katanya ngundang Govinda, atau malah mereka adalah para peserta test STANBI (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Bagian Illinois) yang nunggu jadwal test sekalian nonton bola biar gak stress.

    *kemudian Haykal diumpan ke ikan paus*

    Setelah itu, pertandingan berlanjut, Meksiko vs Uruguay yang akhirnya dimenangin Meksiko 3-1 dan sempet ada insiden memalukan berupa panitia salah muterin lagu kebangsaan Uruguay, malah muterin lagu kebangsaan Chile. Bardaks Uruguay pun jadi salting dan kayaknya mencoba untuk pura-pura nyanyi tapi malah jadi nyanyi lagu Hello Band yang Ular Berbisa.

    "AKU TERTIPU AKU TERJEBAK AKU TERPERANGKAP MUSLIHATMUU"

    Tapi intinya, gue sedikit heran sama pertandingan Venezuela vs Jamaika. Bukan karena Rodoloph Austin kena kartu merah dan bukan juga karena kenapa Rosales mainnya bagus tapi kok gak direkrut Persewa Wamena, tapi lebih karena kenapa penontonnya sedikit. Ya secara kualitas boleh lah penonton Venezuela cantik-cantik dan "Ini yang mama cari"-able (untung nulisnya jam segini), tapi secara kuantitas, gue kecewa. Venezuela dan Jamaika penontonnya kalah dari Indonesia, yang pertandingan persahabatan Timnas U-19 nya pun tetep rame sama penonton, padahal Venezuela punya Salomon Rondon yang main di WBA (Liga Inggris) dan Jamaika punya Wes Morgan yang malah jadi kapten Leicester City, juara Liga Inggris musim ini.

    Tapi semua ini berujung kepada "Saha maneh Kal ka Jamaika geh acan". Ya, benar, gue bahkan belum pernah ke Jamaika atau Venezuela. Yang mungkin kalo gue orang Jamaika, gue bakal bikin Kosupnas Jantaise alias "Komunitas Supporter Timnas Jamaika Cinta Damai Selalu" yang menggagas chant (nyanyian dukungan) timnas dengan nada reggae. Asik.

    Omong-omong, kali ini gue bakal coba bahas soal fans di sepak bola yang sering juga disebut sebagai pemain kedua belas, yang sebenernya ada di 3 draft tulisan gue dan entah kapan akan gue selesein, mungkin bakal dirangkum disini. Sebagai olahraga yang paling banyak digemari orang, pertandingan bola gak akan rame kalo gak ada fans atau gak ada yang nonton, bakal garing kayak jokes "Eh lo dipangil tuh sama si Wanda" / "Wanda mana ya?" / "Waaa ndak tau saya".

    *dijodohin sama pesut*

    Di dunia sepak bola sendiri, udah banyak fans yang terbukti ngedukung timnya dengan cara gila-gilaan, sememble apapun tim itu bermain. Contohnya kayak fansnya Borussia Dortmund yang dijuluki "The Yellow Wall" yang kalo diliat bisa bikin kita serasa lagi nonton lomba bikin papercraft terkeren dan terbesar se-Jerman saking kerennya supporter Dortmund kalo lagi dukung timnya. Ada lagi fansnya Galatasaray di Turki sana yang gak beda jauh sama fans Dortmund. Gak lupa fans dari beberapa klub negara Eropa Timur yang dikenal ekstrim kalo lagi dukung timnya dan lebih dikenal dengan nama "Ultras".

    Di Indonesia sendiri, ada banyak fans klub yang kalo nonton ke stadion bisa edan-edanan kerennya. Kayak supporter Persib dan PSS Sleman yang pernah bikin koreo keren banget pas di Stadion Jalak Harupat (Bandung) dan Stadion Maguwoharjo (Sleman). Selain itu, gue kira kesetiaan fans bola di Indonesia udah gak usah diragukan lagi. Dari mulai klub yang ada di divisi tiga sampe level timnas usia junior sekalipun, pasti ada aja yang ngedukung.

    Beberapa orang pun kaget sama animo supporter Indonesia ini. Kayak Miljan Radovic waktu pertama kali seleksi masuk Persib. Di biografinya, dia cerita kalo semangatnya waktu seleksi di Persib nambah berkali-kali waktu liat ada banyak orang yang nonton di pertandingan latihan itu. Ada juga David Laly sama Samsul Arif yang takjub sama penonton Persib yang menuhin lapangan di pertandingan ujicoba lawan tim kecil. Podolski pemain timnas Jerman pun pernah bilang bahwa animo supporter Indonesia menakjubkan.

    Walau keren, tapi sayang sekali gue belum termasuk bagian dari mereka yang bisa nonton di stadion secara langsung. Sebagai fans, gue lebih sering nonton di TV dan kunjungan gue ke stadion mungkin masih bisa di hitung pake jumlah jempol dan kelingking di tubuh manusia. Selain karena faktor stadion jauh (gue seumur-umur baru 2 kali nonton langsung ke Stadion Jalak Harupat) dan jomblo (gak nyambung sih), gue entah kenapa lebih senang nonton di rumah. Mungkin karena di rumah gue bisa melakukan lebih banyak hal. Tapi dalam hati gue pengen punya tiket musiman Persib yang sayang sekali belum ada wujudnya HAHAHA.

    Selain itu pun, gue masih punya harapan suatu saat nanti bisa nonton pertandingan AC Milan di San Siro sana, atau nonton Lyon main di Parc OL. Tapi ya bagaimana yah, jalan ke Jalak Harupat aja gue gak hapal :(

    ************

    Gue sendiri gak tau darimana dan siapa yang memulai penggunaan istilah "Pemain Kedua Belas" buat nyebut supporter. Tapi gue setuju sama penyebutan ini. Karena gue yakin supporter adalah sumber semangat bagi para pemain, sama halnya kayak "dia" yang jadi sumber semangat gue di sekolah.

    He. Jomblo.

    Gue (secara soide) bisa melihat sendiri pengaruh supporter ke suatu tim, terutama tim favorit gue, AC Milan. Milan yang dalam 3 tahun terakhir ini mainnya gak karuan melulu, ngebuat San Siro sering sepi penonton pas Milan main dan ngebuat Milan mainnya tambah memble, bahkan dapet skor 3-3 pas main lawan tim peringkat 19 di San Siro, gak pantes buat tim yang udah 7x juara Liga Champions ini. Tapi pas Final Tim Cup (Piala Italia) di Stadio Olimpico, gue liat yang nonton cukup banyak. Dann, saat itu Milan mainnya kereeeennn banget parah, gue aja jujur gak nyangka Milan main sekeren itu, ya walau akhirnya kalah juga tapi setidaknya gue takjub sama permainan Milan yang udah kayak anomali hari itu.

    Tapi ada juga tim yang gak tau diri. Udah didukung semua orang tapi tetep aja memble. Kayak timnas Indonesia. Gue yakin semua WNI bakal dukung Timnas Indonesia kalo lagi main, apalagi pas Piala AFF atau pas Sea Games, melupakan hal apakah mereka suka bola atau nggak. Tapi sayang sekali, penampilan Timnas Indonesia gak kunjung membaik, apalagi didukung dengan pengurus PSSI yang kayaknya gak ngerti amat sama sepak bola dan lebih suka sama uangnya.

    #HaykalForKetuaPSSI

    Selain itu, ada juga beberapa tim yang terbukti menghargai keberadaan supporter, dengan memesiunkan nomer punggung 12 (gak boleh dipake pemain) kayak Persija dan PSM kalo gak salah. Pemain yang make nomer 12 sendiri gue gak tau banyak, entah karena sepi peminat atau karena mereka sadar nomor 12 adalah untuk supporter. Cuman Gilang Angga (Persib) dan Marcelo (Real Madrid) yang gue tau sebagai pemain bernomor punggung 12. Gue juga inget bahwa maskot Bayern München, Berni, sering keliling Allianz Arena pake jersey bernomor punggung 12, lucu aja, kayak kamu.

    Hehe. Wassalam.

    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !

    Di hari terakhir sebelum puasa ini, seperti biasa gue do nothing aja di rumah. Hidup gue sedikit hampa setelah tragedi laptop ketumpahan aer 2 hari yang lalu, gue seakan George Foreman yang merasa kehilangan separuh jiwanya sewaktu Muhammad Ali wafat kemaren. Ya mungkin Allah ngasih cobaan laptop ketumpahan aer supaya gue lebih tabah dan paham bahwa bikin tulisan panjang di HP itu susah :(

    Kalo JK Rowling bikin serial Harry Potter di HP pasti pas udah selesai si jempol tangannya udah berbentuk kayak jempol kuda.

    Tapi walau jomblonya keliatan, tapi gue entah kenapa iseng aja hari ini buka-buka situs berita yang beritanya update setiap 5 menit sekali walau kadang tidak terlalu penting. Saat sedang nyurfing itulah, gue liat 1 berita yang 'menggelitik' gue, judulnya "Sepasang Copet Diciduk Usai Beraksi di Mall".

    Jadi berita itu berisi tentang seseorang yang HP nya kecopetan waktu lagi jalan-jalan di Mal Seasons City, Jakarta tadi sore. Dia nyadar dan panik HPnya udah raib waktu pengelola mal ngingetin supaya pengunjung berhati-hati akan copet, lalu ngelaporin ke security dan saat diperiksa di CCTV, ada sekitar 2-3 orang yang ada di mall waktu itu lalu wuzz ditangkaplah mereka sepasang copet tersebut.

    Sebenernya, si korban panik pas HP nya ilang itu wajar banget. Kalo kayak waktu naik motor sih, seganteng-gantengnya dan setajir apapun pengguna motor tersebut, gue yakin dia juga bakal panik waktu ngeraba saku belakang dan dompetnya gak ada.

    Ribuan pikiran melintas pas gue baca berita tersebut. Mulai dari yang serius kayak "Astagfirullah mau puasa kok masih melakukan dosa, apakah mereka gak tahu di Arab sana kalo pencuri itu dipotong tangannya", yang membuat gue evaluasi diri kayak "Wah kalo ke mall hati-hati nih pencopet udah bosen sama pasar kayaknya" sampe yang menyangkut kehidupan pribadi gue layak "Ya Allah copet aja sepasang masa gue sendiri :("

    (( SEPASANG COPET ))

    Entah kenapa, hati gue sedikit teriris ngebacanya. Kayaknya, gue jomblo kelamaan deh...

    Ini beritanya barangkali kalian juga gak ada kerjaan dan mau baca http://m.tribunnews.com/metropolitan/2016/06/05/sepasang-copet-diciduk-usai-beraksi-di-mal

    Gue bener-bener pengen tau gimana sejarah mereka bisa bersama dan jadi pasangan copet. Beberapa pikiran terlintas di otak gue, diantaranya :

    - Mereka ikut sekolah copet, dan di tahun kedua mereka kebetulan sekelas terus sang guru menyuruh mereka duduk bersama and the rest is history.
    - Di suatu waktu saat si cewek lagi beli daun sirih buat cemilan di rumah, tiba-tiba dompetnya dicopet dan sebagai pencopet juga, tentu dia sadar dia lagi dicopet lalu akhirnya dengan cepat dia membekap sang pencopet. Bukannya dibawa ke polisi, si copet itu malah dibawa ke rumah si cewek lalu si cewek bilang "Kamu yang mama cari".
    - Suatu saat semesta mengatur mereka lagi nyopet di tempat yang sama, ceritanya mereka udah berhasil nyopet target mereka dan segera lari biar gak ketauan. Saat lari, mereka berdua saling bertabrakan lalu adegan terkenal ala sinetron Indonesia terjadi di ranah tukang copet.
    - Mereka sebenernya udah pacaran
    👧 : Sayang kemaren HP jatoh ke bak mandi nih rusak
    👦 : Ke Mal Seasons City yuk beb
    👧 : Kita kan gak punya uang beb, kamu lupa ya kemaren kita beli karet gelang koleksiannya Dinasti T'ang di Laz*ada
    👦 : Kamu lupa ya pekerjaan kita apa :)

    Ya, entahlah gimana caranya mereka bisa bersama dan mencopet bareng-bareng tadi sore di Mal Seasons City, Jakarta. Tapi gue yakin, waktu mereka ditangkep dan diancem bakal kena 5 tahun penjara, mereka tetep bahagia karena berpikir "Di penjara pun aku bahagia asal menghabiskan waktu bersamamu".

    Taunya beda penjara jir sedih :(

    Beberapa jokes tidak lucu pun melintas di kepala gue soal copet ini, terutama yang seharusnya joke ini udah lama punah, kayak :
    👦 : Bro lo tau gak caranya biar HP kita gak kecopetan di kereta
    👨 : Copetnya berangkatin ke Suriah?
    👦 : Bisa sih, tapi yang lebih tepat itu lo gausah bawa HP bro

    Ya sebenernya joke ini sama kayak "Pake sepatu adalah cara biar sendal kita gak kecopetan di masjid". Ya Allah gue receh amat ya gue kayak kembalian Indomaret :(

    Tapi setelah baca sampe akhir dan baca ulang lagi biar lebih paham, gue menemukan satu kalimat yang lumayan menyedihkan dari sepasang copet ini : "Kapolsek Tambora, Kompol Muhammad Safi'i, menuturkan penangkapan dua sekawan tersebut bermula saat..."

    (( PENANGKAPAN DUA SEKAWAN ))

    (( DUA SEKAWAN ))

    (( SEKAWAN ))

    Setau gue yang jarang baca KBBI ini, arti kawan adalah teman atau sahabat dan tidak akan pernah berubah arti jadi kekasih sampai kapanpun.

    Jadi artinya, salah satu dari mereka udah kena friendzone :( Apalagi ini tingkatannya lebih tinggi, udah mencopet bersama-sama, jadi udah "temen nyopet zone". Gue di friendzone in aja udah mau berhuhu huhu apalagi ini udah temen nyopet zone :(

    Gue jadi kebayang kalo salah satu dari mereka punya Instagram, mereka pasti akan ngepost hasil nyopet mereka dengan caption : "Terima kasih Tuhan hari ini kita dapet iPhone 6S dan dompet yang isinya bukan cuman kartu asuransi doang. Ini semua berkat dia di sebelahku yang sudah berjuang keras melindungiku supaya gak ketauan korban, emang deh u're my best mega friend ever"

    Menurut hemat seorang jomblowan 17 tahun yang hobinya mompa ban pake kentut ini, arti best mega friend akan sama dengan teman dan sampai kapanpun sama kayak kawan, gak akan pernah berubah arti jadi kekasih walau Nicki Minaj udah bikin konser religi di Pulau Mentawai.

    Jadi, buat pihak yang kena friendzone, sabar aja ya da hidup mah perih :( Apalagi besok puasa, kurang-kurangi nyopet dan perbanyaklah beribadah supaya bisa kembali memiliki hati yang bersih nan suci.

    Gile dah.

    Anyway, selamat puasa yaa semuanya semoga ibadahnya lancar dan bisa diterima oleh Allah SWT. Gue punya pantun nih sebelum kita puasa :

    Nasi uduk
    Ikan tongkol
    Mohon maaf
    Lahir batin
    All

    HEHE wassalam :)

    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !

    Sekitar 2 minggu lalu, Coldplay ngerilis video klip terbaru buat salah satu lagu di album "A Head Full Of Stars" mereka, judul lagunya Up&Up. Biasanya, gue gak terlalu tertarik sama video klip suatu lagu, karena biasanya video klip kalo nggak biasa aja ya gak nyambung sama lagu. Gak banyak video klip yang ngebuat gue tertarik mantenginnya lama-lama sampe mata gue pendarahan atau bill warnet gue udah bablas 3 jam.

    Tapi pada akhirnya gue iseng aja mau nonton video klip lagu Up&Up ini, yang kata orang-orang sih bagus (padahal baru sekitar 1-2 hari rilis waktu itu). Pertama gue denger bagus itu dari penyiar malam Radio Prambors, Kresna Julio sama Genus. Mereka waktu itu bilang kalo video klip Coldplay yang baru bagus bange, dan si Julio paling suka bagian pas Chris Martin tiduran di sawah. Sampe situ, gue gak terlalu tertarik karena "Tiduran di sawah? Dia mau kampanye swasembada beras apa gimana?". Lalu, beberapa menit sesudahnya, saat gue sedang berselancar dengan riang di twitter, gue baca salah satu tweetnya Ernest Prakasa yang mengatakan bahwa video klipnya Up&Up sakit jiwa. Nah, dari situlah gue mulai sedikit tertarik buat menyelidiki sebagus apa video klipnya.

    Maka gue pun ngebuka YouTube terus nonton video klip Up&Up, yang saat itu udah ditonton 9 juta kali, edan oge. Dan waktu gue nonton pun...

    Bagus banget jir.

    Beneran deh. Kalian bisa jadi termasuk orang-orang yang merugi (hehe lebay) kalo gak nonton video klip Up&Up. Karena, aduh entah yah, bagus banget parah :( Gue gak paham lagi. Gue sendiri paling suka bagian ada anak kecil yang jalan di kumpulan ikan laut yang bergerombol, sama waktu ada balapan di cincin Saturnus yang entah kenapa keren banget. Gue bener-bener ngapresiasi yang ngebuat video tersebut dan kalo aja ada Haykal SP Award, gue bakal ngasih Penghargaan "Video Klip Yang Betah Haykal SP tonton walau mata sudah berdarah" kepada tim pembuat video Up&Up ini.

    Waktu pertama kali nonton pun, gue sempet memastikan bahwa gue gak abis ngeganja dan lagi nge-fly waktu nonton saking bagusnya video klip itu. Tapi baru saat itu gue sadar kalo gue gak abis ngeganja dan video klipnya emang beneran bagus karena ya gimana mau ngonsumsi ganja, gue pulang jam 7 aja masuk angin.

    Ini linknya buat kalian yang lagi gabut dan barangkali pengin nonton, bukan video prank hantu atau video tutorial membuat kue berbahan dasar Jasjus kok : https://youtu.be/BPNTC7uZYrI

    Tapi, waktu pertama kali nonton itu gue lebih suka sama video klipnya daripada lagunya. Entah karena baru pertama kali denger atau belum tau betul liriknya. Gue baru sadar dan suka sama lagunya itu sekitar 1-2 hari setelahnya, waktu gue lagi nunggu hujan sendirian di BIP, karena gue parkir motor jauh banget di sebrang BIP dan hujan membuat gue terjebak sendirian seperti lebah yang tersesat di sarang semut. Gak ada hubungannya sih tapi ya intinya gue sendirian.

    Sambil nunggu hujan yang lumayan lama itu, gue duduk di tangga bagian belakang BIP (yang ada Hotel Aryaduta) dan pasang headset lalu pengen aja ngedengerin lagu Up&Up sambil baca liriknya untuk yang pertama kali. Sekitar 2 kali gue ulang lagu tersebut, entah ada pikiran liar darimana yang mengatakan bahwa gue harus menulis sebuah novel dari lagu ini HAHAHA emang random gue juga gak paham lagi :(

    Soal makna lagu ini sendiri, gue menafsirkan bahwa lagu ini dibuat dengan tujuan menyemangati orang-orang yang tampaknya sedang patah semangat. Ini terlihat dari banyaknya penggunaan kata "Up and Up" di lagu ini, sama banyaknya kayak kalimat "Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?" di Al-Quran.

    Setiap kata "Up and Up" dinyanyikan (sebelum masuk reff), pasti sebelumnya ada sebuah kisah pendek yang lumayan sedih, lalu Coldplay dateng sambil bilang "Up and Up" lalu pergi menyemangati orang lain lagi.

    Fixing up a car to drive in it again
    searching for the water hoping for the rain
    Up and Up, Up and Up

    Down upon the canvas, working meal to meal
    Waiting for a chance to pick your orange field
    Up and Up, Up and Up

    Ya jadi itu 2 bagian awal lagu Up&Up ini. Menyemangati orang-orang. Dan gue sendiri suka sama lirik di bagian reff, liriknya sekeren gue *lalu dihukum dengan wajib mendengarkan Mars Perindo seumur hidup*. Waktu dengerin reffnya, seakan-akan Abang Chris Martin dan kolega-koleganya sedang ngeband di kamar gue ngebawain lagu ini, lalu terakhir bilang "Semangat ya Kal".

    We're going to get it get it together right now
    Going to get it get it together somehow
    Going to get it get it together and flower
    oh oh oh oh oh oh

    Itu bagian reff lagu ini yang punya makna menyemangati kita. Kalo aja gue cewek, bisa-bisa gue jawab "Makasih BangTin doain aja yah semoga aku kuat abis diputusin si Supangat" dan ngirim surat ke manajemen Coldplay yang isinya "Makasih banyak loh BangTin dkk yang udah nyemangatin aku, salam dari Geng Ceban Ceria Bandung Selatan, Bang. Katanya mereka juga pengen disemangatin hihihi :)" dan ujungnya gue ditangkap Satpol PP Kota New York karena dianggap menganggu ketertiban umum.

    Walau bagus, gue juga rada heran sama BangTin di salah satu liriknya yang :

    Yes I want to grow yes I want to feel
    Yes I want to know show me how to heal it up
    heal it up

    Lah, kalo Chris Martin dkk nya aja pengen di heal it up-in, gue yang cuma seonggok bakteri di nasi sisa kemarin ini bagaimana :( Tapi setidaknya gue memuji sikap teman-teman Coldplay ini, mereka memutuskan untuk menyemangati orang terlebih dahulu padahal sebenarnya mereka juga perlu disemangati. Sama gue aja kali yak.

    Semangat Coldplay, kalo konser ke Indonesia jangan lupa undangan Hijau Daun jadi pembukanya ya, gue sebagai Ketua Klorovers Cabang Bandung akan sangat bangga jika kalian melakukan itu :')

    Mungkin teman-teman gue bertanya, gue kok yang udah dapet kuliah duluan, yang keuangan aman-aman aja karena punya jualan sendiri, temen banyak, dan lain-lain dan lain-lain, tapi masih perlu disemangatin?

    Teman-teman, mungkin kalian lupa bahwa aku ini jomblo dan buat ke Prom nanti pun belum tau mau sama siapa, mentok-mentok gue ajak kura-kura gue ke prom dan main catur bareng disana, atau menikmati performa Barasuara (yang jadi bintang tamu prom SMA gue) bersama-sama, menghabiskan malam dengan suasana romansa Bandung.

    Walau gue kadang berpikir "Deketin sieta ah", apalagi setelah gue ketemu temen-temen SBM ITB gue dari seluruh Indonesia, nyatanya gue masih gini aja. Tiap hari diem dikamar do nothing, atau kalau keluar rumah juga nanaonan liat-liat buku diskon atau jalan-jalan di BIP sendirian. Gak ada realisasi gue buat ngedeketin temen baru gue di SBM ITB, walau pas gathering kemaren gue udah kenalan sama beberapa dari mereka. Ya begitulah. Duh jadi pengen masukin lirik band sebelah nih.

    "How can move on, when I'm still in love with you?"

    Ea. Huhu. Semoga kamu keterima ITB juga ya.

    Iya, kamu.

    Hehe. Remaja.

    Dan alasan kedua kenapa gue perlu disemangatin adalah; kemaren malem, beberapa jam sehabis gue nyelesein tulisan kisah cinta gue dengan si oren, gue dengan bodohnya tanpa sengaja nyenggol gelas penuh air di sebelah laptop dan WUZZZ seketika air mineral yang dianggap berguna itu menyerang laptop gue dengan cepatnya macem ketawa (ketawa kan menularnya cepet tuh). Gue panik sih, tapi gue gak menunjukkan kepanikan itu bahkan di kamar gue sendiri. Ya walau begitu gue tetep langsung cari penanganan kalo laptop kena air di HP gue dan melakukan segala cara yang gue bisa, termasuk ngebuka bagian bawah laptop dan dijemur dihadapan lampu belajar sampe paginya biar kering bener.

    Waktu pagi, gue lanjut ngasih kehangatan ke laptop gue dengan hair dryer selama kurleb 15 menit lalu ngejemurnya di matahari pagi Pulau Jawa. Sambil berharap nanti malem udah bisa berfungsi lagi.

    Jam 6 sore, gue beraniin diri ngecas tuh laptop dan berhasil, lalu sekitar 2 jam kemudian nyalain tuh laptop. Eh nyala, gue seneng, tapi abis itu,

    "System operation not found"

    Mampus. Harddisk nya rusak.

    Huhuhu pengen nangis aja gue sampe bulan Rajab :(

    Untung aja isinya belom terlalu banyak. Yang paling penting cuman foto temen-temen seangkatan gue yang diminta dari Ozi, dan beberapa draft tulisan gue yang kayaknya belom terlalu banyak. Ada juga beberapa berkas buat daftar ulang ITB dan pengunduran diri Universitas Telkom, dan untungnya itu semua udah kelar, kalo ketumpahan aernya sebelum daftar ulang ITB / pengunduran diri Telkom, yang kelar selain laptop itu adalah idup gue.

    Ya, begitulah. Semoga gue tabah dengan cobaan jomblo dan laptop rusak ini. Oiya, sementara gue ngeblog via HP, jadi maap kalo kurang maksimal kayak PDKT gue ke doski hehehe ea naon.

    Jangan lupa naek dan naek terus ya brosis, tetep sumanget dan salam penikmat ayam cola Jalan Gelap Nyawang !!

    Wassalam.

    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Orang bijak abad ke-20 bilang bahwa cinta itu buta.

    Beneran?

    Kalau kalian adalah pengguna motor yang taat akan aturan dan sadar akan keselamatan berlalu lintas, kalian pasti tidak setuju dengan statement bahwa "cinta itu buta" dan akan lebih setuju dengan statement "cinta itu melindungi". Mengapa? Mari kita lihat dari hal mendasar yang biasanya dilakukan oleh para pengguna motor. Yang pertama mungkin punya motornya, karena kalau pengguna motor tidak punya motor maka ia lebih cocok disebut pengguna sepeda, itu pun kalau dia punya sepeda, yang roda tiga merk Famili juga gak apa-apa yang penting sepeda. Yang kedua adalah menyalakan motor, yang merupakan prosedur umur dan pasti semua pengguna motor bisa melakukannya, walau terkadang kita harus menyetut untuk menyalakannya jika motor kita sudah tua dan cocok dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Yang ketiga adalah memakai perlengkapan berkendara yang layak seperti jaket jika cuaca dingin, jas hujan jika hujan (masa sih) dan memakai helm dengan tulisan "SNI" di bagian kanan atau kirinya.

    Nah, poin terakhir ini yang akan gue bahas.

    Dari banyak aksesoris jika ingin berkendara dengan elegan, mana sih objek yang paling harus ada?

    Baju dengan tulisan "Turn kcaB Crime" ? Bukan.

    Kaos kaki selutut bergambar Nicholas Saputra? Bukan juga.

    Kaos "My Trip My Adventure" ? Apalagi.

    Bagian belakang yang bertuliskan "Setiap luka punya cerita" ? Salah bro itu mah truk.

    Alat penyeduh kopi? Elo mau naik motor bro bukan mau pelatihan jadi barista.

    Knalpot ular? Wah, gue saranin elo ikut test kejiwaan deh.

    Helm? DUA JUTA RUPIAAAHHHH *musik pesta ala-ala acara sahur mengalun dari kejauhan*.

    Ya, jadi gue mau nyeritain soal helm, khususnya helm gue, yang warnanya oren dan selalu ada bersama gue sejak pertama kali gue masuk SMA, sekitaran Juli 2013. Buat kalian yang baca ini, mohon jangan hubungi Pusat Rehabilitasi Hewan Langka terlebih dulu karena gue yakin, semakin jauh kalian membaca, kalian akan semakin yakin bahwa cinta itu tidak melulu soal manusia. Bahwa cinta itu memiliki makna yang luas, sebesar samudera seluas jagat raya. Walaupun manusia ada di dalam kisahnya, tapi tetap saja ada faktor lain yang biasanya kita lupa bahwa faktor tersebut telah termasuk kisah romansa itu sendiri. Baik itu soal benda, waktu, takdir, ataupun kenangan.

    Ea.

    Haters be like "Bilang aja ini cuman excuse bahwa elo gak punya kisah cinta yang menarik, Kal".

    Hehe tau aja lo :(

    Kisah cinta gue dengan helm ini berawal dari gue masuk SMA, 3 tahun lalu. Beberapa hari sebelum hari pertama di SMA, gue dibeliin motor beserta helmnya. Helm yang dibeliin Ayah gue itu warnanya oren dan bermerk Kayete. Waktu pertama kali liat, gue seketika berpikir "Anjir bahaya kalo gue nonton Persib pake helm ini". Sebagai Bobotoh sejak kecil, gue sadar akan bahaya seperti itu walau kayaknya terlalu lebay juga. Tapi pada akhirnya beberapa hari kemudian gue beli 2 stiker logo Persib dan menempelkannya di helm gue, agar terlihat semakin gagah dan membuktikan bahwa gue, Haykal Satria Panjeraino, adalah seorang Bobotoh walau helmnya warna oranye dan suka pengin joget sendiri kalo dengerin lagu India. Buat menambah kegantengan helm, gue pun menempelkan stiker "TIM" di bagian belakang helm, "TIM" sendiri biasanya terlihat di logo Serie A Italia, gue sendiri gak paham "TIM" ini apaan, apakah perusahaan televisi Italia atau perusahaan penyedia alat-alat pramuka terbesar di Italia. Entahlah.

    Biasanya, orang-orang tidak ada kerjaan atau saking cintanya bakal ngasih nama ke barang kesayangannya. Sampe gue nulis ini, gue belum punya nama resmi buat helm gue dan tiba-tiba saja gue terlintas dengan nama "Si Oren". Tampak seperti serial Betawi tahun 70'an emang, tapi ya gapapalah daripada gue namain Beban Listrik kan gak lucu, gak nyambung pula. Awal-awal gue pake helm itu, kepala gue sering terasa panas dan rambut gue jadi gak karuan sehingga rasanya gak pede mau kenalan sama cewek-cewek di angkatan gue *halah naon sampe sekarang geh gak berani*. Tapi makin lama gue mulai merasa nyaman dengan helm itu dan mulai menganggapnya sahabat gue, yang kalo gue udah kelewat gila mungkin gue bakalan ngajak diskusi helm gue itu soal masalah negara seperti permasalahan pensiunan atlet yang kurang diperhatikan oleh pemerintah atau mengapa angka jomblo di Kota Bandung tinggi sekali.

    Kata cewek-cewek zaman sekarang, mereka cenderung nyari cowok yang bisa bikin nyaman. Tapi sayang jarang dari mereka yang mau pacaran sama mamang penjual kasur.

    Jika gue adalah cewek zaman sekarang dan helm gue adalah cowok modern yang dinamis dan elegan, tentu dengan senang hati gue akan tinggal bersama helm itu sampai akhir menjemput.

    Tapi, jangan deng :( Gue jadi jomblo juga gak mau gitu-gitu amat sampe pacaran sama helm.

    Karena gue selalu pake ini helm kemana-mana selama 3 tahun terakhir, jadi entah udah berapa banyak kenangan yang gue dan si oren ini ciptakan. Dari mulai suka sampai duka kita jalani bersama bagaikan sepasang teman. Dari mulai kehujanan bareng-bareng, jatoh bareng-bareng, dimarahin bareng-bareng, jalan-jalan sampe Jalak Harupat bareng-bareng, sampe menemani gue dispen sekolah selalu si oren ini lakukan dengan sepenuh hati. Bahkan mungkin dedikasi terbesar dia pada gue adalah waktu si oren ini rela dipake oleh gebetan gue [WOW] waktu gue ngebonceng gebetan gue ini. Hal ini terpaksa gue lakukan karena waktu itu, 22 Agustus 2014, gue cuman bawa si oren ke sekolah dan siangnya gue mendadak harus (dan pengen juga) nganter gebetan gue ke suatu tempat di sekitaran Cikutra. Karena gak ada helm lagi dan gue adalah orang yang mengutamakan keselamatan berlalu lintas (apalagi ini ngebonceng gebetan), gue sempet ngobrol secara personal dengan si oren dan akhirnya ia setuju buat dipake sama gebetan gue, sementara gue pinjem helm full face nya Robby yang terlalu ekstrim kalo dipake gebetan gue. Jadi ya begitulah, gue bangga dengan si oren waktu itu, walau kisah gue dengan sang gebetan tidak terlalu baik, tapi setidaknya si oren sudah menunjukkan sikap kesatria hari itu.

    Walau berdedikasi tinggi, tapi bukan berarti si oren ini tanpa masalah. Entah sudah berapa kali si oren ini bikin susah gue kalo lagi buru-buru dengan lupanya dia ngikutin gue pas gue udah nyalain motor *inimah guenya aja yang bego*. Si oren juga udah pernah ganti kaca, karena kaca yang pertama udah baret cukup parah dan menyebabkan statement "Cinta itu buta" menjadi benar kembali bagi pengendara motor. Sekarang pun, fitur khusus anti maling si oren udah rusak entah kapan entah kenapa dan kacanya sering lepas dari helm yang membuat gue harus ngebenerinnya, gampang sih sebenernya hehehe. Bagian dalem si oren yang berguna melindungi telinga kiri gue pun udah rada lepas. Tapi itu semua gak membuat si oren berhenti dan menyerah untuk menjadi pahlawan jalan raya bagi gue.

    Dan, gue juga beberapa kali punya salah sama si oren, khususnya waktu hujan. Dan yang paling gue inget adalah 31 Maret 2014. Waktu itu, abis EF gue pergi ke Riau Junction dan BEC buat beli beberapa barang buat kado ulang tahun salah satu temen gue. Saat itu gue ke BEC jam 9 malem, parkir di Gramedia Jalan Merdeka karena pikiran gue bilang bahwa parkir di BEC hanya akan menambah derita gue malem ini. Pas gue parkir, malam berjalan dengan syahdu dan tidak ada firasat buruk dalam hati. Gue pun jalan ke BEC dan beli beberapa barang yang gue cari. Lalu waktu gue mau keluar BEC, duarrr, hujan menyerang dengan derasnya. Gue dan puluhan karyawan BEC nunggu di bagian depan BEC sambil berharap hujan berhenti. Tapi gue salah, hujan malah makin gede dan gue makin gak bisa pulang. Hal pertama yang gue pikirkan adalah "Mampus aing gak bawa jas hujan" dan pikiran kedua gue adalah "Mampus naro helmnya ngadep atas". Saat itu jam 10 malem dan gue bingung mau ngapain. Akhirnya dengan jiwa Spartan gue menerobos hujan itu sampe parkiran Gramedia dan menemukan bahwa si oren udah basah kuyup dan penuh air. Dengan perasaan Ya-Allah-cobaan-apalagi-yang-engkau-berikan-padaku, gue pake si oren dengan ikhlas dan menerobos hujannya Bandung tanpa jas hujan, dan itu adalah satu-satunya hari (sampe saat ini juga) dimana gue lupa bawa jas hujan. Gue sampe rumah kira-kira jam setengah 11 malem, dengan kondisi basah kuyup dan pening. Untungnya gue gak sakit terlalu parah walau jaket gue agak sedikit rusak di bagian seleting. Tapi gue merasakan kesedihan si oren malem itu yang diakibatkan kesalahan gue sendiri. Sebenernya bukan malem itu doang gue naro helm madep atas pas hujan, udah sekitar 5-7 kali gue kayak gitu, dan itu adalah saat yang paling gue benci karena saat si oren basah itulah gue bisa sakit kepala sampe besoknya dan rambut gue jadi acak-acakan kayak hati orang yang kalah di Final Kejuaraan Catur Antar Kecamatan Kabupaten Jember Selatan.

    Walau begitu, sampe sekarang, gue masih pake helm itu walau terkadang gue ganti pake helm punya adek gue yang warnanya ungu jika si oren tadi kebasahan akibat gue salah nempatin waktu lagi parkir. Entah kapan gue bakal ngeganti si oren, mungkin saat gue mulai kuliah bulan Agustus nanti, itu didukung perkataan Ayah gue yang nyuruh gue buat beli helm baru karena helm itu kayaknya udah banyak bakterinya setelah 3 tahun gak diganti-ganti. Secara kesehatan, gue mah rela-rela aja ngeganti si oren daripada si oren ngasih gue penyakit otak yang ngebuat gue bakal hobi ngunyah ranting cemara dan membuat gue berpikiran bahwa badak pandai bikin aplikasi di PlayStore. Si Oren pun akan terkenang punya kisah dengan gue yang lebih manis daripada kisah gue dengan gebetan gue di SMA, yang sejatinya gak punya kisah apa-apa HUHUHU malah curhat.

    Dan, kalo nanti 10 tahun lagi helm itu udah gak ada dan gue udah beralih jadi pengendara mobil, gue akan mengenang helm tersebut dengan mengingat kutipan puisi "Tidak Ada New York Hari Ini" karya Aan Mansyur,

    "Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang"

    Masih percaya cinta itu buta? Kalo cinta itu buta dan helm itu ngebuat kita gabisa ngeliat, ya kita kecelakaan dong. Jadi, sekarang percaya kan bahwa cinta itu harusnya melindungi?

    Wassalam.

    *foto si oren menyusul, karena kuota yang terbatas, wajar baru lulus SMA.
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Kalo elu-elu pade terlalu sering liat postingannya "Relationship Goals" atau ngefollow akun remaja galau di Line atau twitter, pasti bakal nganggep tulisan ini ngebahas tentang kisah seorang cowok yang gak peka sama 'kode' yang diberikan oleh seorang tokoh utama wanita yang digambarkan baik hati, pintar, rajin menabung tapi mukanya jelek atau tubuhnya penuh sama panu. Yang lebih ekstrim lagi mungkin kalian-kalian ada yang nganggep bahwa tulisan ini akan bercerita tentang seorang PK alias "Penjahat Kela*min" yang tobat lalu ikut Aa Gym tur dakwah keliling dunia. Yah, kalo ada yang mikir gitu, gue saranin kalian pesen tiket pesawat ke Pulau Komodo terus piknik disana dalam waktu yang lama, malah kalo bisa kalian ikut jadi pengurus pulau tersebut dan berkawan dengan komodo-komodo liar sampai akhir hayat kalian. Sungguh mengharukan.

    Setelah kemaren ngomongin soal buku, kali ini gue bakal ngomongin soal film. Berhubung film adalah tema yang bukan aing pisan, maka gue gak akan bahas secara detail suatu film atau menulis seperti kritikus film, jadi buat kalian yang lagi cari gimana caranya dapet aktor pemeran Pangeran Antasari yang pas atau teknik mengedit supaya terlihat sebagus film-film Tutur Tinular atau mara tips n trik agar bisa menjadi mamang petugas penyobek karcis di bioskop, Anda salah masuk blog, mungkin blog sebelah punya tipsnya.

    Peka

    Mungkin ada aja dari kalian yang memiliki tanya dan keluh kesah dalam hati "Emang ada ya film judulnya Peka? Atau jangan-jangan si jomblo ini mau ngebuat film romansa judulnya Peka lagi? Wah gue kudu lapor KPI nih secepatnya supaya gak merusak moral bangsa" dan segelintir hal lain soal film Peka ini. Kalo kalian gak tau filmnya, main kalian kurang malem jalan-jalan kalian kurang jauh. Ada tau.



    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Selama kelas 12 ini, gue jadi jarang baca buku, bahkan buku pelajaran sekalipun karena gue lebih seneng nyatet terus-terusan buat belajar daripada baca buku pelajaran ribuan halaman tanpa ngerti isinya. Mungkin baru 3-6 buku diluar buku pelajaran yang gue baca selama kelas 12 ini, karena gue cukup lama buat nyelesain satu buku, buku “Para Priyayi”-nya Umar Kayam aja gue selesein selama 2-3 bulan, dari awal semester 2 sampe beberapa Minggu sebelum UN, padahal bukunya gak tebel-tebel amat, 308 halaman, dan ceritanya pun gak berat-berat amat, paling ada beberapa cuplikan Bahasa dan adat Jawa tahun 40’-an yang sedikit susah dipahami sama anak 17 tahun yang tinggal di Bandung sejak TK dan suka ngoleksi jam besuk ini.

    Abis UN, gue kira gue bisa baca buku lebih cepet lagi, tapi sayangnya nggak setelah gue harus ikut Intensif SBMPTN di SSC yang diadain tiap hari, Senin sampe Sabtu. Dan, setelah gue keterima SNMPTN pun, gue kira gue bisa liburan keliling tata surya atau melakukan sesuatu yang produktif dan sporty selama 3 Minggu sambil nunggu daftar ulang 31 Mei kemaren. Tapi sayangnya hal tersebut kandas setelah ternyata SBM ITB ngadain gathering buat mahasiswa baru angkatan gue yang keterima undangan dari seluruh Indonesia tanggal 30 Mei kemaren, dan yang basis Bandung jadi panitia. Gue pun makin pusing buat ngapa-ngapain, bahkan pas acara mulai aja kepala gue nyut-nyutan kayak bajaj mencoba ngedrift, untungnya gue gak melakukan sesuatu yang liar dan berbahaya (kayak ngubek-ngubek tempat sampah atau naburin gula ke wastafel terus dijilatin) walau pening waktu kenalan sama temen-temen semeja.

    Alasan gue baca buku bisa lama banget adalah waktu membaca gue yang rata-rata cuman pas sebelum tidur aja, itupun kalo gak ketiduran. Waktu kelas 11, gue baca satu buku bisa seminggu (ya tetep lama sih tapi lumayan kan) karena gue sering baca waktu lagi gabut di kelas, lah kelas 12 mana bisa, setiap waktu diisi dengan bahas soal nyatet materi berdoa dan berkawan, jarang punya waktu yang luang banget buat baca buku sendiri dari rumah. Mau baca di rumah juga, gue udah keburu cape, yang biasanya berakhir dengan ketiduran jam 11, atau kalau lagi “hoki” gue gak ketiduran dan punya waktu baca buku sebelum bener-bener tidur jam 1 malem. Namanya juga idup.

    Diantara beberapa buku yang udah gue baca selama ini, sebenernya ada 2 buku yang gue anggap terbaik; “For One More Day”-nya Mitch Albom sama “Sabtu Bersama Bapak”-nya Adhitya Mulya. Buku For One More Day entah kenapa berhasil ngebuat gue sedih, walau kenyataannya diantara buku Mitch Albom lain, buku ini kurang terkenal dibanding “Tuesday With Morrie” yang belum gue baca ataupun “Five People You Met In Heaven” yang biasa aja hehe, dan yang bikin gue sedikit bete sama buku ini adalah ceritanya yang ternyata fiksi. Entah gue masih punya otak jahiliyah atau memang terlalu realistis sampe-sampe gue percaya bahwa cerita di buku itu nyata. Ya Tuhan ampuni hamba. Buku “Sabtu Bersama Bapak” sendiri, bagus parah, coba baca aja sendiri, karena gue dulu bacanya pinjem dari perpus sekolah dan udah gak terlalu hapal jalan ceritanya, tapi punya makna yang mendalam dan cocok dibaca akang-teteh yang baru berumah tangga. Mantap.

    Ya, jadi kali ini gue bahas buku lain aja, yang gue yakin udah banyak yang baca karya dari penulis satu ini, terutama dedek-dedek puber atau akang-teteh pasca-puber yang suka bingung mau makan dimana kalo lagi pacaran. Judulnya "Paper Towns", yang kalo diterjemahin jadi rada aneh; Kota Kertas, lu kira origami? Buku ini ditulis sama John Green, yang akhir-akhir ini terkenal karena beberapa novel remaja yang dia tulis macem "The Fault In Our Stars" yang gak terlalu gue ngerti, "Looking For Alaska", "An Abudance of Katherines" dan lain-lain yang belum sempet gue baca juga. Paper Towns ini genre ceritanya gak beda jauh sama "The Fault In Our Stars" dan novel Mas Green yang lain, yaitu tentang kisah remaja. Di Paper Towns ini, Mas Green lebih fokus ke kisah misteri pencarian seorang remaja oleh temannya, tapi jangan disamakan dengan "Sherlock Holmes" atau Detektif Conan karena ceritanya gak serumit itu, gak perlu sampe manggil Polda Metro Jaya atau sampe mengerahkan Tim SAR buat nyari orang ini.

    Ya, seperti yang gue bilang, novel ini bercerita tentang kehidupan di masa akhir SMA, kelas 12 lah. Tokoh utamanya Quentin Jacobsen, biasa dipanggil "Q" di buku itu (gue yakin kalo dia ke Indonesia nama panggilannya berubah jadi Qiqi). Mas Qiqi ini punya 2 temen baik, Radar yang pinter hitungan dan komputer sama ada Ben yang otaknya sedikit gesrek dengan obsesi dateng ke prom sama dedeque-dedeque lucu yang dia sebut "Honeybunny". Terus ada juga Margo Roth Spiegelman (entah kenapa gue suka nama ini), dipanggil Margo alias Mbak Mar. Dia tetangganya Mas Qiqi sejak kecil, hobinya ngilang mulu dan ninggalin kode setiap kali pergi. Yah namanya juga cewek, mainnya kode-kodean, lu kira gue mesin enigma bisa mecahin kode.

    Bagian awal buku ini nyeritain tentang kisah Mas Qiqi dan Mbak Mar waktu pertama kali tetanggaan, SD mungkin. Jendela kamar mereka hadap-hadapan, jadi kalo gabut atau lagi gak ada PR mereka bisa ngobrol-ngobrol lucu antar-jendela, malah kalo lagi lupa diri si Mbak Mar digambarkan suka nyelonong gitu aja ke kamar Mas Qiqi. Cuman sekadar ngobrol aja, atau pernah sekali mereka diskusiin kematian Mas Robert Joyner, tetangga mereka yang ditemukan dalam keadaan almarhum di taman deket rumah mereka berdua. Dari kecil, si Mbak Mar ini udah keliatan punya bakat kerja di BIN atau jadi editor novel Sherlock Holmes dengan inisiatifnya nyari tau kenapa Mas Robert bisa meninggal mengenaskan. Tapi sayang Mas Qiqi yang terlalu polos waktu itu suka bingung kalo Mbak Mar ngomong dan milih tidur.

    Semakin dewasa, mereka digambarkan semakin jauh, Mas Qiqi curhat dengan sedihnya bahwa dia jarang ngobrol lagi sama Mbak Mar selama di SMA, padahal rumahnya sebelahan. Dia menyalahkan status Mbak Mar yang udah naik jadi "anak gahul" di sekolah dan pacaran sama anak gahul pula, sementara di Mas Qiqi tau diri bahwa dia cuman anak kuper yang suka main Resurrection bareng Ben sama Radar. Pendek kata, dia kalah kelas sama Mbak Mar ini, gak mungkin Mbak Mar mau sama dia, pikir Mas Qiqi, wong tau aku aja dia nggak kayaknya, lanjut pikiran Mas Qiqi. Jadi aja selama di SMA ini dia cuman bisa memandangi Mbak Mar dari jauh, memendam rasa cemburu-tapi-aku-bukan-siapa-siapanya-dia dan hanya bisa jatuh cinta diam-diam. Kalo kata kalimat di bagian belakang truk sih; "Ikhlas tapi tak rela".

    Dan entah kenapa pada suatu malam yang dingin dan sejuk-sejuk lucu, tiba-tiba aja Mbak Mar ini nyelonong ke kamar Mas Qiqi, waktu Mas Qiqi udah mau bobo tampan. Andai aja gue punya pintu kemana saja, pasti pas baca bagian itu gue masuk ke kamar Mas Qiqi dan tiba-tiba melantunkan Surat Al-Isra ayat 32, mungkin habis itu Mas Qiqi dan Mbak Mar jadi tercerahkan dan ganti nama jadi Muhammad Quentin Jusuf dan Margo Fatimah Spiegelman, lalu mereka memutuskan untuk membuat Kelompok Remaja Masjid Tolak Kemaksiatan Cabang Jefferson Park untuk selanjutnya jadi pasangan pemuka agama setempat yang dihormati semua kalangan. Andai saja.

    Oke ngaconya kejauhan.

    Jadi di Mbak Mar ini suatuhari masuk ke kamar Mas Qiqi, ngebangunin Mas Qiqi dan bilang dia mau pinjem mobil Ibunya Mas Qiqi. Mas Qiqi pun nanya buat apa Mar, ini udah malem lho nanti Ibu kamu nyariin, terus kata Mbak Mar yaelah woles aja nih Qi gue punya 10 rencana malem ini dan bakal ngajak elo buat bantuin gue, gue jamin deh malem ini bakal jadi malem terbaik dalam hidup lo, tapi pertama gue pinjem mobil elu ya ya ya plis da baik da ganteng da sholeh, begitu kata Mbak Mar. Akhirnya, Mas Qiqi pun terenyuh atau bisa juga terdorong perasaan suka ke Mbak Mar, jadi dia nganterin Mbak Mar ngejalanin 10 rencana balas dendam Mbak Mar ke temen-temennya, dari jam 1 sampe jam 5 subuh, mungkin dia gak pernah ngedengerin lagu Rhoma Irama jadi gak tau efek buruk begadang.

    Bagian paling rame dari nganterin Mbak Mar ngejalanin rencananya itu adalah pas masuk ke SunTrust Building tengah malem terus liat pemandangan kota dari ruang rapat di gedung itu, ya asik aja, entah gue kelamaan sendiri jadi pengen kayak gitu :( Hehe nggak deng Astagfirullah ijazah SMA aja belom dapet gue.

    Masalahnya, abis petualangan itulah tiba-tiba Mbak Mar ngilang, entah kemana. Mas Qiqi udah nyari kemana-mana nanya banyak orang sampe nyari petunjuk di kamarnya Mbak Mar, tapi gak ketemu juga. Sampe suatu hari dia inget perkataan Mbak Mar soal 'kota kertas' dan mulai mencari dari kata tersebut. Beberapa petunjuk sempet ia dapet, yang pertama di gudang bekas toko souvenir yang udah lapuk, Mas Qiqi sampe rela tinggal disana waktu temen-temennya ngadain Prom Night, karena dia mikir dia gak mau datang kalo gak sama Mbak Mar.

    Eaeaea. Kuliah aja belom udah mikirin pacaran aja lo.

    Dan pada ujungnya, dia nemu satu kata kunci yang bener-bener keren, namanya Agloe, yang merupakan kota khayalan dan Mas Qiqi ngira bahwa disanalah Mbak Mar berada. Jadi, waktu sekolahnya ngadain wisuda, dia malah kabur naik mobil Ibunya, ke Agloe itu yang jauh banget kayak ngelilingin Pulau Jawa. Tapi dia gak sendiri, ditemenin sama Ben, Radar dan Lacey (pacarnya Ben). Dengan perhitungan Radar yang tampan dan dinamis, mereka nyetir dengan kecepatan penuh supaya sampe tepat waktu. Mereka bersyukur karena Tuhan masih ngasih kesempatan ngebut di jalan, walau ada sedikit hambatan macem Ben yang ngeyel mau kencing di tengah jalan. Sekitar 21 jam kemudian, mereka sampe di Agloe, setelah mencari beberapa lama, akhirnya Mbak Mar ketemu di sebuah gedung, dia tinggal sendiri di suatu ruangan yang udah dia tata. Pertemuan Mbak Mar dan Mas Qiqi sendiri waktu itu kurang dramatis, gak ada adegan peluk-pelukan dengan latar musik India atau Mbak Mar yang tiba-tiba nampar Mas Qiqi dengan alasan "Kamu jahat, Mas !!" yang sebenernya tanpa alasan. Pertemuannya biasa aja, gitu-gitu aja, ngobrol biasa walau Mbak Mar sempet marahan dikit ke Mas Qiqi (cie). Tapi akhirnya mereka bisa baikan dan duduk-duduk lucu sambil mengenang masa lalu di padang rumput sekitar sana, untung kagak ada mamang mbe lagi nuntun mbenya mencari makanan. Bisa repot tuh mereka kalo lagi duduk terus tiba-tiba diberakin mbe, kan gak lucu. Lucu sih, tapi ya kasian aja Mas Qiqi kan ingin PDKT nya sesempurna lagu Andra n The Backbone.

    Yah jadi begitulah cerita singkat novel itu, kalian bisa beli novelnya atau nonton filmnya kalo masih penasaran. Ah iya, soal filmnya sendiri gue belom nonton banyak, baru setengahnya karena naluri-males-nonton-film-gue mulai muncul pas sejam pertama film itu. Lagian, tokohnya juga gak kayak yang gue bayangin, cuman Mas Qiqi yang pas diperanin Natt Wolff. Mbak Mar yang diperanin Cara Delevigne kerasa kurang pas entah kenapa, Ben dan Radar juga, gak pas aja.

    Setelah pembahasan buku Paper Towns selesai, gue berharap bisa baca lebih banyak buku lagi ke depannya. Saat ini, gue lagi baca buku "Anna Karenina"-nya Leo Tolstoy, setelah sebelumnya pertama kali baca bukunya John Grisham yang "The Firm" dan sempet ngebuat gue suka tiba-tiba resah sendiri. Semoga bisa ya, minimal baca buku perpus juga gapapa, walaupun bacanya satu buku berdua, kayak yang gue lakukan sama Nadyra waktu kelas 11, dimana waktu itu dia pinjem buku "Padang Bulan-Cinta di Dalam Gelas"-nya Andrea Hirata dari perpus sekolah, terus kita baca berdua, gantian aja, yah walau telat ngembaliin tapi seenggaknya bukunya bagus dan gratisan HEHEHE.

    Wassalam :)
    Baca Terus Jangan Kasi Kendor !
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Selamat datang di blog Hai Haykal ! yang merupakan pelopor tulisan tidak berguna sejak tahun 2011. Kami tidak bertanggung jawab atas gangguan mata, mual, muntah, kejang-kejang, dan ditinggal waktu lagi sayang-sayangnya setelah membaca blog ini.

    Tentang Aq

    HAYKAL SATRIA PANJERAINO
    Seorang mahasiswa tingkat akhir yang senang menulis hal yang tidak ada gunanya dan sedang memulai bisnis baju olahraga. Sering random, pelupa, dan suka marah kalo lagi laper.

    Yang Udah Nyasar

    Semua Tulisan

    • ▼  2018 (5)
      • ▼  Desember (1)
        • Memento Mori
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
    • ►  2017 (11)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2016 (44)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (30)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (68)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (5)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (27)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (8)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
    • ►  2014 (36)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (8)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2013 (18)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (6)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2012 (46)
      • ►  Desember (1)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (5)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2011 (7)
      • ►  November (2)
      • ►  September (5)

    Kategori

    Ada Ilmunya Bodoh Cerpen Diriqu Fiksi Gak Jelas Galau Iseng Jejersian Keperluan Lomba Kisah Nyata Lagi Bener Lagu Galau Masa Kuliah Masa SMA Masa SMP Pembodohan Random Review Buku Sehari-Hari Sepak Bola Tantangan Menulis Random - Februari Tantangan Menulis Random - Juni Temen-Temen Terlalu Jujur Tulisan Pendek

    Paling Rame

    • Galauan Lagu : Adhitya Sofyan - Blue Sky Collapse
    • Debat Pramuka, Dan Lain-Lain
    • Galauan Lagu : HiVi - Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi
    • Secuil Kisah Trilogi di SMA Taruna Bakti (Pendaftaran)
    • Cowok Sunda-Cewek Jawa
    • Karena Kita Adalah Sahabat Bagi Diri Sendiri
    • Akhir Yang Indah di Bulan Juni
    • Secuil Kisah Trilogi di SMA Taruna Bakti (Pengumuman)
    • Galauan Lagu Secondhand Serenade - Awake
    • Hari Pertama Pake Kacamata

    Sosmed Aq

    • Google Plus
    • LinkedIn
    • Facebook
    • Twitter
    • Ask FM
    • Instagram
    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top